Modest Style

Bukan Sekadar Ucapan Selamat

,

Sekadar menyelamati mualaf tidaklah cukup. Klaudia Khan mengingatkan kita bahwa mereka mungkin membutuhkan bantuan setelah memeluk Islam.

2501-WP-Support-by-Klaudia-SXC-sm
Jejaring dukungan dadakan. Gambar: SXC

Membuat keputusan penting tidak pernah mudah. Membuat keputusan yang mengubah hidup – seperti memeluk Islam – mestilah yang paling sulit. Hanya saja saat kita menyadari Islam adalah agama sesungguhnya kita tidak memiliki pilihan lain. Keputusan sudah dibuat. Mualaf baru seringkali mengingat rasa luar biasa yang mereka rasakan setelah mengucap syahadat: menurut mereka, rasanya seperti terlahir kembali.

Hal inilah yang juga saya rasakan saat menjadi Muslim sekitar enam tahun yang lalu. Dan seperti umumnya “bayi yang baru lahir”, saya membutuhkan perawatan, dukungan, dan arahan. Suami saya adalah guru utama saya dalam mempelajari Islam dan pada saat itu saya dikelilingi oleh orang-orang yang membuat saya merasa diterima; yang dapat memperkenalkan dan mengajari berbagai hal dasar. Berkat mereka, transisi saya berjalan lancar dan saya belum pernah merasa kesepian – hal yang sering dirasakan oleh banyak mualaf di awal hidup baru mereka sebagai Muslim. Merasa diacuhkan oleh teman lama dan terisolasi dari teman baru merupakan cobaan berat yang dialami banyak mualaf baru. Untungnya, ada orang-orang yang memahami pentingnya membuat mualaf baru merasa diterima di komunitas Muslim.

Precious Pearls adalah sebuah kelompok pemberi dukungan bagi mualaf baru yang mengadakan pertemuan setiap Sabtu di ruang kelas sebuah sekolah Islam di Dewsbury, North England. Perkumpulan tersebut digagas oleh Farida, seorang mualaf keturunan Turki-Inggris, sekitar dua tahun yang lalu. Meski Farida merasa dapat beradaptasi dengan komunitas Muslim setempat, yang dianggapnya ramah dan terbuka, ia merasa mualaf membutuhkan pertemuan tersendiri saat Ramadhan sebagai pengganti kurangnya dukungan keluarga selain untuk merasakan nikmat berbuka puasa bersama.

Setelah mendapatkan tempat untuk pertemuan yang diadakannya, ia merasa terharu dengan membludaknya respon positif dan bantuan yang ia dapatkan dari para sukarelawan.

“Masya Allah! Itu adalah Ramadhan yang luar biasa,” kenang Farida. “Dukungan dari komunitas sungguh tidak dapat dipercaya. Kami mengadakan sesi bagi perempuan mualaf baru untuk menyampaikan pidato tentang sirah, tafsir, dan Ramadhan, obrolan empat mata, dan makanan rumahan untuk dibawa pulang. Ada juga tempat penitipan anak dengan beragam kegiatan bertema seputar Ramadhan. Juga segmen sosial di mana para saudari dapat saling berbagi pengalaman dan bertemu.”

Pertemuan-pertemuan semacam itu ternyata sangat diminati karena para saudari yang baru menjadi mualaf membutuhkan dukungan yang lebih dari sekadar pertemuan sesekali. Precious Pearls tidak hanya membuka pintu bagi para mualaf, namun juga bagi siapa saja yang ingin mempelajari Islam lebih dalam, atau butuh teman. Perempuan dari berbagai usia dan beragam latar belakang budaya dan etnik berkumpul untuk menghadiri ceramah tentang tafsir, yang diikuti oleh kisah tentang kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Setelah sesi ceramah yang disampaikan oleh para sukarelawan guru pendidikan Islam bersertifikat, datanglah waktu untuk ramah tamah dan sesi empat mata di mana para mualaf diberi kesempatan untuk berbicara kepada seorang mentor tentang hal apapun yang ingin ia tahu, untuk mempraktekkan pengetahuannya tentang huruf hijaiyyah, atau melatih kemampuan dasar membaca Qur’an dengan seseorang yang lebih menguasai.

Setiap mualaf baru juga dihadiahi paket selamat datang berisi buku-buku, CD pelajaran, sebuah sajadah, sebuah kerudung, sebuah batang miswak, dan berbagai kejutan lainnya. Tidak ada yang akan menganggap Anda tidak tahu apa-apa, dan sesi empat mata memberi Anda kesempatan berbicara jujur dan bertanya apapun. Semangat persaudaraan sangat kuat terasa, dan berbicara dengan mentor terasa seperti berbicara dengan kakak yang perhatian.

Sementara di California, Institut Islam Orange County (IIOC) dan Pusat Islam Irvine membantu para mualaf melalui program Mentor Mualaf. Setiap mualaf baru yang membutuhkan dukungan setelah mengucap syahadat (atau bahkan siapapun yang belum membuat keputusan namun tertarik mempelajari Islam) mendapatkan paket sambutan yang terdiri dari bacaan yang berguna di dalam prosesnya dan didampingi oleh seorang mentor. Beberapa mentor yang sempat saya temui adalah Ukh Marium, Hajar, dan Anita.

Marium telah menjadi Muslim selama 20 tahun, beralih dari kepercayaan Hindu. Pada awal perjalanannya menuju Islam, ia bertemu dengan beberapa perempuan istimewa yang memberinya petunjuk dan dukungan yang sangat dibutuhkannya. Pertemuan tersebutlah yang mendorongnya menjadi seorang mentor.

“Kebaikannya kepada saya membuat saya ingin melakukan sesuatu sebagai bentuk balas budi di jalan Allah SWT. Jadi saat saya meninggalkan Dubai dan datang ke AS, saya membantu para mualaf di komunitas setempat dengan cara mengundang mereka datang ke rumah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka,” ujar Marium.

Saat bergabung dengan kelompok sukarelawan di masjid setempat, ia menyadari betapa para mualaf membutuhkan dukungan dalam berbagai hal: sosial, ekonomi, pribadi, dan spiritual. Dukungan tersebut juga harus diadakan di lingkungan setempat.

“Di California, hampir 80 persen mualaf tahun lalu adalah perempuan Latin lajang, sebagian besar di antaranya berasal dari kesejahteraan kurang. Mereka memiliki anak, dan itu sulit!” Syukurlah Marium dan semua yang bekerja di IIOC siap melakukan lebih bagi siapapun yang membutuhkan.

Hajar yang lahir di Maroko menjadi lebih taat setelah kepindahannya ke AS pada usia 16 tahun. Ia merasa upaya terorganisasi dalam membantu mualaf ini penting, karena orang-orang yang terlahir Muslim terkadang mencurigai para mualaf ini sehingga memungkinkan mereka ditipu dan dicurangi. Sebagai mentor, ia merasa bahwa menerangkan tentang Islam sekaligus mencontohkan cara hidup Islami itu penting .

“Saya merasa dikelilingi oleh banyak mualaf, sehingga memacu saya untuk selalu melakukan yang terbaik dalam setiap segi keagamaan, untuk menjadi contoh yang baik,” ujar Hajar.

Anita, yang menjadi mualaf 29 tahun lalu, mengatakan bahwa ia juga beruntung bertemu dengan Muslim yang suportif yang membuatnya merasa disambut dan membantunya beradaptasi dengan komunitas baru. Kini ia membantu orang lain dan merasa bahwa tidak terburu-buru maupun menekan para mualaf itu penting. Yang seharusnya dilakukan adalah membangun hubungan, karena “tugas mentor adalah untuk selalu ada bagi mereka dan membantu mereka melewati keadaan menantang yang mungkin dialami setelah memeluk Islam.”

Memeluk Islam menyenangkan sekaligus menantang. Langkah-langkah awal menuju keimanan yang baru dan kehidupan yang baru akan selalu terkenang. Namun pengalaman kita tentang masa menyenangkan setelah mengucapkan syahadat seharusnya juga menjadi pengingat bahwa ada orang-orang di sekeliling kita yang mungkin membutuhkan bantuan setelah memeluk Islam.

Setiap orang dapat menyelamati mualaf baru, namun sekadar mengucap “Masya Allah” tidaklah cukup. Kita harus berbuat lebih banyak dan menuntun mereka, seperti halnya seseorang telah – atau kita harap telah menuntun kita.

Leave a Reply
<Modest Style