Modest Style

Berkenalan dengan Muslim Bintang Budaya Pop Australia

,

Akhirnya terdapat cukup banyak penggambaran muslim dalam budaya pop modern sehingga memerlukan penelitian akademis – tapi ini belum tentu berarti kemajuan. Amal Awad berbincang dengan akademisi Krayem Mehal.

Berkenalan dengan Muslim Bintang Budaya Pop Australia_Aquila Style

‘Bolehkah saya mengatakan bidang penelitian saya adalah salah satu yang paling keren? Tentu saja, setelah mereka yang meneliti Bollywood.’

Tidak setiap hari Anda mendengar seorang akademisi begitu terang-terangan mencoba membuat bidang penelitian mereka terdengar superkeren, tapi tidak mengherankan bila Krayem Mehal melakukannya. Faktanya memang begitu, mengingat betapa intens ia menekuni dan menghayati penelitian di dalam PhD-nya. Sebagai seorang guru, presenter, dan penulis, Mehal bisa dianggap pakar di dalam bidang budaya pop Arab dan Muslim, meskipun ia mengerucutkan spesialisasinya pada bidang tersebut di Australia.

‘Lebih spesifik lagi, saya mengamati penggambaran Arab dan muslim dalam drama kriminal (film dan televisi) Australia.Topik ini pada dasarnya meliputi pembahasan tentang budaya populer Australia sedikit lebih luas.’

Ketika dia membicarakan tentang penelitian sosiologinya – bidang yang juga mengantarkan ia berkecimpung dalam studi media – antusiasmenya kelihatan jelas (sejujurnya, dia sudah seperti teman baik saya sehingga saya mengenal kepribadiannya).

Mehal juga memiliki rasa humor tentang kehidupan seorang akademisi. Ketika saya bertanya apa yang membawanya ke bidang penelitian ini, ia bercerita bahwa terjunnya dia ke ‘dunia akademis penyebab hidup miskin’ itu melalui pembimbingnya.

Konyolnya, media Barat tidak pernah menggambarkan Muslim dalam konteks ‘normal’ selama seabad terakhir – muslim adalah teroris, suku padang pasir yang karikatural, atau sopir taksi. Bahkan karakter muslim yang biasa-biasa saja pun tidak ada dalam penggambaran mereka.

Tapi hal ini sekarang perlahan-lahan berubah. Mehal mengatakan sekarang muncul bidang atau sub-bidang penelitian baru di wilayah ini. Di Australia khususnya, ini adalah bidang penelitian yang masih baru, namun Mehal bercanda bahwa ini disebabkan karena sampai saat ini tidak ada yang bisa dianalisis.

‘Melihat seorang muslim di televisi (selain dalam berita) itu sangat langka, tapi akhir-akhir ini hal itu semakin sering terjadi dan ini benar-benar menarik… bagi saya.

‘Saya pikir muslim benar-benar mewarnai dekade ini.’

Namun, dalam hal penggambaran, tampaknya ini masih sangat belum seimbang. Mehal menuturkan betapa dia terkejut, ‘bahkan penggambaran tentang muslim atau Arab yang tampak paling objektif pun sejatinya masih belum objektif’. Menurut dia, problem ini tidak bisa dipisahkan dari kurangnya keterlibatan orang Islam dan Arab.

‘Bahkan ketika mereka dimintai pendapat atau dilibatkan dalam sebuah perkara, pengambil keputusannya bukanlah orang Islam atau Arab. Jadi, sebagus apa pun pemahaman media Barat terhadap Islam dan Arab, selalu ada hal penting yang mereka lewatkan,’ katanya.

‘Ini menunjukkan amat penting bagi orang Islam dan Arab untuk masuk dan menjadi ahli di bidang ini.’

Fokus Mehal (untuk saat ini) adalah pada Australia, tapi dia juga menaruh perhatian terhadap penelitian global, khususnya penelitian dari AS, Inggris, dan Kanada.

‘Saya pikir akan benar-benar menarik untuk membandingkan Kanada dan Australia tapi masalah ini akan menjadi satu tesis tersendiri, dan menurut pendapat saya jika kita berhasil di satu (proyek penelitian) PhD, kita tidak harus mencoba lagi karena kita mungkin tidak begitu beruntung. Ini seperti rolet Rusia.’

Berkenalan dengan Muslim Bintang Budaya Pop Australia_Aquila Style
Mehal menunjukkan lingkungan penelitiannya yang penuh warna

Mehal menghabiskan satu tahun meneliti bagaimana anak muda muslim melewati masa sulit dan membentuk identitas Islam mereka pasca 9/11, dan dari penelitian ini, ia menyadari bahwa salah satu cara ‘membentuk identitas’ adalah melalui media.

‘Pada saat itu usaha yang paling banyak dilakukan adalah melalui genre komedi. Ada ledakan komedian muslim dan beberapa dari mereka mulai mengguncang aliran “mainstream,” jadi bidang ini benar-benar baru sekaligus menantang dan saya benar-benar ingin tahu apa yang terjadi di sana. Saya mendedikasikan satu bab dalam tesis saya untuk mencari tahu.’

Tidak mengherankan, usaha penuh antusiasme ini pun menyibak dunia yang sama sekali baru – dan membuka pintu ke sebuah bidang studi khusus yang menghasilkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

‘Saya menyadari rasa ingin tahu saya tidak akan terpuaskan hanya dalam 8.000 kata. Saya tidak punya pilihan lain selain menyiksa diri dengan penelitian selama empat sampai tujuh tahun lagi.’

Selain itu, menurut Mehal, PhD ‘dimulai di suatu tempat dan berakhir di tempat lain’.

‘Dalam perjalanan meneliti humor, ternyata perhatian saya tersita oleh dunia indah film dan televisi. Akhirnya saya harus memutuskan arah mana yang akan saya ambil, saya akhirnya meninggalkan komedi dan meluncurkan diri ke dunia drama kriminal, dan jujur saja, ini keputusan yang besar.’

Memiliki banyak cerita untuk dibagi, Mehal mengakui adanya beberapa tantangan (selain ‘sekadar menulis tesis yang tebal dengan cara yang sistematis’).

‘Saya bisa bilang salah satu tantangan terbesar adalah mewawancarai orang-orang di industri film dan televisi yang sungguh-sungguh tidak bisa melihat ada masalah dengan penggambaran muslim sebagai “eksotis” atau “barbar”. Juga sangat mengecewakan melihat bahwa pertimbangan laba dan peringkat televisi lebih penting daripada efek jangka panjangnya pada masyarakat. Saya menjadi seperti seorang idealis.’

Dan sang idealis ini telah berencana, begitu penelitian tentang budaya pop yang menghabiskan energi ini selesai, dia akan secara konsisten terlibat pada kerja – kerja organisasi non pemerintahan.

‘Saya rasa saya ingin menggunakan kemampuan saya untuk kebaikan bahkan jika itu berarti seumur hidup saya harus berjuang untuk membayar sewa kontrak rumah.’

Mehal juga ingin terus mengajar (itu membuat dia ‘membumi’), dan dunia fiksi juga terus memanggilnya.

‘Mengkritik karya orang lain itu gampang, tapi tak mudah untuk menghasilkan karya yang benar-benar sesuai dengan apa yang kita kritikkan ke orang lain.’

Namun, semua ini akan bersaing dengan hobinya pergi ke pantai, ‘di tengah hari – ketika orang lain bekerja – membaca novel chick-lit yang agak jelimet, menyesap es teh dan menambah berat badan dengan makan cupcake red velvet’.

Ada juga minat-minat remeh seperti kursus membuat pasta, menyempurnakan bahasa Arab dan belajar bahasa Prancis.

Jika saya betul mengenalnya, saya yakin dia akan menemukan budaya pop adalah sebuah  variasi dari semua hal itu.

Pelajari lebih lanjut: Muslim in Pop Culture

Leave a Reply
<Modest Style