Modest Style

Berbagi Nasi, Berbagi Kemanusiaan

,

Sebuah kegiatan kemanusiaan membuka mata Cahya Meythasari tentang nilai keikhlasan dan sebungkus nasi.

(Gambar: SXC)
(Gambar: SXC)

Masih ingatkah dengan berita tukang becak yang ditemukan mati kelaparan dekat becaknya di Banyumas tahun 2011 lalu? Kejadian itu terulang lagi di penghujung tahun 2013, namun pada lokasi yang berbeda yaitu Semarang, sebuah ibu kota propinsi. Ironisnya, kejadian ini menimpa seseorang yang berprofesi dan berumur sama. Seorang penarik becak berumur 60 tahun ditemukan tidak bernyawa di becaknya dalam keadaan kelaparan.

Menurut berita yang saya baca dari situs-situs berita online, pada Senin pagi yang dingin tanggal 23 Desember tersebut, Mbah Samidi didapati meninggal akibat keracunan nasi basi. Di sana disebutkan bahwa dia nekat menyantap nasi tak layak konsumsi karena tidak punya uang untuk membeli makanan.

Di berita tersebut juga disebutkan bahwa menurut kesaksian rekan seprofesinya, Mbah Samidi tidak pernah memiliki sedikit pun niat untuk mencuri uang receh agar dapat sekedar membeli nasi murah di warung nasi agar perut kempisnya bisa terisi. Namun, keteguhan sikapnya itu harus ditebusnya dengan nyawa.

Hal ini seketika mengingatkan saya pada kegiatan mulia para prajurit nasi – begitu mereka biasa disapa – dari Berbagi Nasi. Kegiatan Berbagi Nasi dimulai di Bandung, Jawa Barat ketika sekelompok pemuda mencanangkan konsep membagi-bagikan nasi secara gotong royong. “Virus” ini mulai merambah ke berbagai daerah dan propinsi di Indonesia melalui akun twitter Berbagi Nasi.

[Not a valid template]

Kamis malam itu, saya mencoba mengikuti kegiatan mereka berbekal 15 nasi bungkus yang saya bawa sebagai “amunisi” untuk mereka yang membutuhkan. Pukul 10 malam kami berkumpul di Sarinah Thamrin, Jakarta. Dari para donatur dan relawan malam itu, berhasil dikumpulkan sekitar 1000 bungkus nasi yang siap untuk dibagikan.

Karena dirasa jumlah nasi bungkus sangat banyak, akhirnya kami dibagi menjadi tiga tim yang menyebar ke tiga lokasi yang berbeda dengan konvoi mobil dan motor. Hal ini agar pengalokasian nasi bungkus lebih merata dengan waktu yang efisien.

Saya ikut dalam tim yang siap membagikan nasi bungkus di sekitar kawasan Menteng sampai stasiun Juanda dan Cikini.

Perjalanan dimulai dari Jalan Kebon Sirih, Menteng. Kami mulai membagikan nasi bungkus kepada para kuli galian dan penyapu jalan yang tengah berada di pelataran jalan. Meski malam gelap, raut wajah senang tetap terlihat menghiasi wajah mereka.

Kemudian perjalanan kami berlanjut ke daerah Sabang, Menteng, Jakarta Pusat. Setiap kali menemui mereka yang berada di dalam gerobak ataupun pemulung, kami berhenti dan membagikan nasi.

Satu peraturan yang tim Berbagi Nasi ingatkan kepada kami adalah bahwa saat membangunkan para penerima, kami harus melakukannya dengan sangat lembut agar mereka tidak kaget. Sebab, mereka semua tertidur dalam keadaan was-was dan bisa jadi mengira bahwa ada pengusiran yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Kami kembali bergerak menuju Stasiun Kereta Api Cikini. Di sini mata saya disuguhi oleh pemandangan yang menyayat hati.

Ada sekitar puluhan pemulung dan orang tidak mampu yang tertidur di ubin dan pinggiran toko yang tutup. Terlebih lagi, terlihat di lantai atas Stasiun Cikini ada pula mereka yang tidur di jendela sambil menyelimuti diri dengan kardus. Udara yang dingin tampaknya tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk terlelap.

Pukul 11.30 malam kami melanjutkan perjalanan ke stasiun Juanda. Betapa kaget dan hampir menangis saya. Betapa tidak, saat saya memberikan satu nasi bungkus untuk seorang ibu tua, seketika itu juga ada lebih dari lima ekor kucing yang ikut makan bersamanya. Ibu itu kelaparan, namun masih mau membagi nasi tersebut dengan kucing-kucing yang saat itu terlihat kelaparan juga. Tidak jauh dari sana malah ada seorang bapak tua yang juga berbagi nasi bungkusnya dengan anjing-anjing.

Peristiwa yang saya saksikan membuat saya tertampar dan hati saya menangis. Ternyata saya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan keikhlasan mereka.

Ya, sebungkus nasi memang tidak seberapa bagi saya. Namun, bagi mereka yang terbelit kelaparan, sebungkus nasi menjadi satu-satunya harapan untuk mendapatkan tenaga untuk keesokan hari.

Lelah dan kantuk sudah tidak terasa lagi malam itu. Yang tertinggal adalah haru dan beberapa bekal pelajaran kehidupan untuk diamalkan di kemudian hari.

Untuk menjadi donatur atau relawan Berbagi Nasi, kunjungi situs Berbagi Nasi Jakarta atau follow akun twitter komunitas ini. 

Leave a Reply
<Modest Style