Modest Style

Bayi Telantar Jadi Anugerah Keluarga Suriah

,
Bayi Telantar Jadi Anugerah Keluarga Suriah_Aquila Style
SURIAH, ALEPPO: Sebuah gambar yang diambil dari AFP TV menunjukkan seorang gadis Suriah (nama tak disebutkan) menggendong adik barunya, Hibat Allah. Bayi baru lahir itu ditemukan di jalanan, di distrik Bustan al-Qasr, utara kota Aleppo, Suriah, pada tanggal 26 Maret 2013. Bayi baru lahir yang ditinggalkan di jalanan di medan pertempuran kota Aleppo, Suriah, itu dinamai “Karunia dari Tuhan” oleh keluarga yang mengadopsinya, walaupun ini berarti mereka ketambahan satu orang lagi untuk diberi makan. AFP PHOTO/AFPTV/ANDREA BERNARDI

Oleh Marie Roudani: ALEPPO, Suriah, 3 April 2013 (AFP) – Seorang bayi yang baru lahir yang ditinggalkan di jalanan di medan pertempuran kota Aleppo, Suriah, dinamai “Karunia dari Tuhan” oleh keluarga yang mengadopsinya, walaupun ini berarti mereka ketambahan satu orang lagi untuk diberi makan.

Di kota yang telah hancur akibat pertempuran sejak Juli tahun lalu, di mana banyak lapangan kerja hilang dan harga bahan-bahan pokok melambung di luar jangkauan masyarakat, banyak orangtua menghadapi pilihan yang sulit.

Dokter mengatakan angka aborsi meningkat, karena para orangtua khawatir tidak sanggup mengurus anak yang baru. Orangtua lainnya mengirim anak-anak mereka untuk tinggal bersama anggota keluarga lain, atau bahkan menelantarkan mereka.

Hibat Allah, demikian namanya dalam bahasa Arab, beruntung dapat bertahan hidup ketika ia ditinggalkan di kawasan kota yang dikuasai pemberontak pada bulan Desember, kenang orangtua angkatnya.

‘Ia ditinggalkan di dalam tas pada pintu masuk sebuah bangunan. Saat itu pukul 3 dini hari, dia menangis, dan tali pusarnya belum dipotong,’ kata ibu Umm Moawiya, penata rambut yang beralih menjadi relawan perawat di medan perang, kepada AFP.

‘Dia beruntung. Dalam 12 jam, ia diperiksa oleh 20 dokter di lima rumah sakit. Wajahnya membiru dan ia butuh oksigen, namun rumah sakit-rumah sakit di daerah yang bebas (yang dikuasai pemberontak) tidak memiliki listrik yang diperlukan untuk menjalankan inkubator.

‘Akhirnya saya menemukan sebuah rumah sakit di area pendudukan (yang dikuasai tentara) yang bersedia untuk merawat bayi perempuan itu selama dua hari.’

Umm Moawiya ditugaskan merawat bayi itu, yang dengan bobot hanya dua kilogram memerlukan perawatan khusus yang hanya bisa diberikan oleh orang yang berpengalaman di bidang medis.

Karena sudah memiliki empat anak, suami Umm Moawiya mengakui bahwa ia tidak langsung  menyambut gagasan mengadopsi si bayi ketika sang istri membawa bayi itu pulang dan mengutarakan niatnya.

‘Tapi istri dan anak-anak saya bersikeras,’ kata Abu Moawiya. ‘Kami menamainya “Hibat Allah” karena dia benar-benar adalah karunia dari Allah.’

Awal tahun ini, LSM Save the Children memperingatkan risiko meningkatnya jumlah anak-anak telantar dalam sebuah laporan khusus tentang nasib suram generasi muda Suriah.

‘Dalam kepanikan untuk menyelamatkan diri, banyak anak terpisah dari keluarga mereka. Dalam kasus-kasus lain, orangtua harus membuat keputusan yang sulit untuk mengirimkan anak-anaknya ke kerabat mereka di daerah yang dianggap lebih aman,’ kata laporan yang diterbitkan pada bulan Maret.

‘Karena situasi terus memburuk, banyak keluarga asuh tidak akan lagi mampu mengatasi hal ini, yang meningkatkan risiko anak-anak itu diserahkan kepada lembaga-lembaga atau ditinggalkan untuk hidup di jalanan dan mengurus diri mereka sendiri di negara yang sedang berperang.’

Nashwa Shakfi, ginekolog yang menangani perempuan Suriah yang mengungsi ke Lebanon, pada Februari lalu mengatakan kepada AFP bahwa banyak perempuan Suriah yang hamil merasa tidak mampu merawat bayi mereka.

‘Banyak perempuan Suriah yang merasa tidak akan mampu membiayai kebutuhan bayi mereka, sehingga mereka lebih memilih aborsi,’ ujarnya.

Setelah mengatasi kebimbangannya di awal, Abu Moawiya mendaftarkan adopsi Hibat Allah di salah satu pengadilan agama yang telah disiapkan oleh para pemberontak untuk menegakkan keadilan di wilayah-wilayah yang mereka kuasai.

‘Kalau orangtuanya ingin mengambilnya lagi, mereka harus pergi ke sana dan mengajukan surat permohonan untuk itu,’ kata pedagang berusia 45 tahun yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di Aleppo tersebut.

‘Insya Allah, tidak ada yang akan mengambil dia,’ kata istrinya.

‘Banyak orang mendatangi kami, ingin mengadopsi si bayi, tapi kami tidak ingin melepaskannya. Bahkan ada orang yang menawarkan untuk membawanya ke Jerman.’

Bahkan Umm Moawiya sendiri mengakui bahwa tambahan anggota keluarga bukanlah hal yang ia dan suaminya cari.

‘Dengan adanya pertempuran dan pengeboman di sekeliling kami, saya berdoa agar tidak hamil lagi,’ katanya. ‘Tapi rupanya, anak kelima kami datang juga.’

Leave a Reply
<Modest Style