Modest Style

Aturan berpakaian santun di Qatar: Harga diri atau pengalihan isu?

,

Sebuah kampanye untuk mendorong wisatawan mengikuti nilai dan norma setempat dalam berbusana menarik perhatian pada Islamofobia di Barat. Oleh Sya Taha.

0501-WP-Qatar-by-Sya-iStock

Qatar telah menghidupkan kembali kampanye kesantunan yang muncul pada tahun 2012, yang dulu dikenal sebagai “One of us” (Bagian dari kami) dan dimulai oleh sekelompok wanita Qatar. Belakangan, upaya ini didukung oleh otoritas pariwisata negara tersebut.[i] Dijadwalkan untuk diperkenalkan kembali pada 20 Juni 2014 – bertepatan dengan penyambutan Ramadhan – sebagai “Reflect your respect” (Tunjukkan rasa hormat Anda), kampanye ini menyasar tempat-tempat umum dengan selebaran dan poster media sosial yang menampilkan beragam pilihan berbusana.[ii] Empat gambar tubuh menunjukkan pilihan berbusana yang dianggap tidak dapat diterima dan tidak santun karena memperlihatkan pundak, lengan, tungkai di bawah lutut, dan rambut dada (pria).

Gambar oleh @reflect_respect
Gambar oleh @reflect_respect

Kampanye ini merupakan bagian dari aturan lebih luas tentang anjuran beretika saat berada di Qatar. Sebuah peringatan yang diterbitkan oleh bandar udara Doha menyebutkan bahwa “Wanita harus berbusana dengan santun, dan pria tidak boleh bertelanjang dada di tempat umum. Tindakan mempertontonkan kasih sayang dan kemesraan di tempat umum sangat dilarang.”

Penyajian simbolis wanita dan pria di atas sudah cukup menarik perhatian saya untuk mempelajari lebih jauh. Jika tubuh keempat dengan pundak yang lebih lebar dan rambut dada adalah pria, maka tubuh wanita dijadikan fokus utama aturan berbusana ini.

Peraturan utama bagi kedua jenis kelamin adalah untuk menutupi bagian pundak hingga lutut. Secara pribadi, saya tidak menganggap peraturan ini berlebihan, mengingat Arab Saudi mewajibkan seluruh wisatawan perempuan mengenakan abaya dan hijab. Menurut saya, sangat masuk akal jika negara-negara tertentu mengeluarkan aturan berbusana bagi wisatawan di wilayah-wilayah tertentu. Contohnya, kebanyakan kuil Buddha di Thailand mewajibkan pundak ditutup. Borobudur, objek wisata terkenal di Indonesia, kini mewajibkan seluruh wisatawan menutupi tungkai dengan selembar kain. Gereja Rusia ortodoks juga mewajibkan wisatawan wanita menutupi rambut mereka, dan menyediakan kerudung kecil di pintu masuk – tidak berbeda dengan kebanyakan masjid masa kini.

Pemilik akun Twitter @RubyZubair menyebutkan bahwa hal ini merupakan perubahan yang baik dari tuntutan terus-menerus negara-negara Barat terhadap wanita Muslim untuk tidak mengenakan hijab maupun niqab.

 

@LaurenBoothUK @reflect_respect nice dress code,Tht’s true freedom 2 live up 2 ur values,not what culturally imperialist nations dictate you

(Terjemahan: Aturan berbusana yang bagus. Itulah kebebasan sebenarnya untuk menjalankan nilai-nilai yang Anda yakini, bukan apa yang secara budaya diperintahkan oleh negara-negara penjajah)

— Rubina Zubair (@RubyZubair) June 4, 2014

 

Meski begitu, kicauannya mengingatkan kita bahwa segala sesuatu terjadi karena ada penyebabnya. Hal-hal yang terjadi di suatu negara atau wilayah berdampak pada negara atau wilayah lain. Apakah kampanye ini merupakan gerakan akar rumput yang bertujuan untuk menjaga budaya, nilai, dan tradisi Qatar hanya karena tujuan tersebut mulia, ataukah ini merupakan bentuk reaksi terhadap berkembangnya jumlah pekerja migran dan wisatawan? Ataukah untuk mengalihkan perhatian dari masalah mendesak di negara tersebut, seperti tingginya angka kematian pekerja migran yang disebabkan oleh penyakit yang tidak diketahui?[iii]

Kampanye ini juga semacam reaksi terhadap tindakan yang diambil Barat dalam menanggapi ketakutan mereka atas berkembangnya jumlah populasi Muslim. Beberapa orang dari negara-negara seperti Belgia, Perancis, dan Belanda, yang lima tahun belakangan terus membicarakan dan menetapkan “larangan penggunaan burqa”, menyebut umat Muslim munafik karena membuat peraturan berbusana, padahal mereka tidak boleh melarang Muslim mengenakan busana tertentu. (Sekadar info tambahan: keberadaan aturan berbusana sudah ada sejak puluhan tahun lalu, baik di Timur maupun di Barat.)

Adilkah perbandingan yang digunakan? Apakah seorang wanita Muslim memiliki hak yang sama untuk berhijab sebagaimana wanita non-Muslim memiliki hak untuk berbikini? Haruskah semua orang diperkarakan secara hukum karena melanggar aturan berbusana? Orang bisa saja berkata untuk benar-benar mendukung kebebasan wanita untuk memilih, sehingga jawaban untuk pertanyaan di atas seharusnya “ya”, “ya”, dan “tidak”. Dari reaksi yang mereka tunjukkan terhadap kampanye Qatar, pengguna Twitter berikut jelas beranggapan begitu.

BovmE1hIgAAk5uj

Namun, kita harus melihat konteks masalah ini dengan memasukkan latar belakang Islamofobia di Barat. Hal ini sangat nyata, dan telah mengakibatkan penyerangan terhadap (kebanyakan) wanita Muslim di jalan-jalan – terkadang hingga tewas.[iv] Bahkan terdapat layanan telepon 24 jam bernama Tell Mama di Inggris untuk “rekaman kejahatan dan kejadian Islamofobia”.[v] Apakah wisatawan di Timur Tengah diserang karena tidak menutup tubuh dengan baik? Pada kasus Qatar, mereka mungkin dikenakan denda atau hukuman penjara. Namun tidak ada warga Qatar yang mengendap-endap di pojokan menanti untuk membunuh mereka karena memperlihatkan pundak.

Terlihat adanya perbedaan penting dalam kedua kasus di atas: apa hukuman bagi orang yang tidak mematuhi aturan yang ada? Hal paling penting yang juga kita perlu sadari adalah apapun negaranya, kebijakan “menjaga” kehormatan negara seringkali diberlakukan dengan merugikan wanita. Selain itu, adanya aturan berbusana yang berfokus pada kampanye untuk menyebarkan “kesantunan” seringkali mengalihkan perhatian kita dari masalah lain yang lebih mendesak di negara tersebut.

________________________________________

[i] ‘Backing ‘One of Us’ modesty campaign, QTA to post dress code guidelines in public spaces’, Doha News, 18 Nov 2012, dapat dilihat di sini
[ii] Victoria Scott, ‘Local modesty campaign ‘reflect your respect’ to relaunch in Qatar’, 20 Mei 2014, dapat dilihat di sini
[iii] Owen Gibson, ‘Qatar government admits almost 1,000 fatalities among migrants’, The Guardian, 14 Mei 2014, dapat dilihat di sini
[iv] Ava Vidal, ‘“People grab our veils, call us terrorists and want us dead”: What it’s really like to be a Muslim woman in Britain’, The Telegraph, 6 Mei 2014, dapat dilihat di sini
[v] Haroon Siddique, ‘Muslim women more likely to suffer Islamophobic attacks than men – study’, The Guardian, 20 Nov 2013, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style