Modest Style

Arab Idol Serukan Dukungan untuk Palestina

,
Foto file: pemenang Arab Idol asal Gaza Mohammed Assaf tersenyum saat pertemuan dengan penggemar dan wartawan sebelum konser di Den Haag, yang pertama di luar Timur Tengah dan Afrika Utara, pada tanggal 29 September 2013. Assaf, 24, menjadi pahlawan nasional ketika dia memenangi kontes pan-Arab pada bulan Juni setelah memukau jutaan pemirsa televisi atas penampilannya yang menakjubkan saat menyanyikan balada cinta Arab dan lagu-lagu patriotik Palestina. AFP PHOTO / CHARLES ONIANS
Foto file: pemenang Arab Idol asal Gaza Mohammed Assaf tersenyum saat pertemuan dengan penggemar dan wartawan sebelum konser di Den Haag, yang pertama di luar Timur Tengah dan Afrika Utara, pada tanggal 29 September 2013. Assaf, 24, menjadi pahlawan nasional ketika dia memenangi kontes pan-Arab pada bulan Juni setelah memukau jutaan pemirsa televisi atas penampilannya yang menakjubkan saat menyanyikan balada cinta Arab dan lagu-lagu patriotik Palestina. AFP PHOTO / CHARLES ONIANS

PBB, November 26, 2013 (AFP) – pemenang Arab Idol Mohammed Assaf pada Selasa turut menyerukan untuk menyumbang dana bagi badan PBB untuk pengungsi Palestina.

United Nations Relief and Works Agency (UNRWA) mengatakan organisasinya mungkin tidak mampu membayar upah staf pada bulan Desember karena defisit anggaran sebesar $36 juta.

Assaf, yang berasal dari Gaza dan menjadi sorotan internasional dengan memenangi serial pencarian bakat Arab Idol tahun ini, mengatakan lembaga itu sangat penting bagi kelangsungan hidup warga Palestina.

“Saya menyerukan kepada semua orang untuk membantu mendanai dan mendukung UNRWA karena itulah satu-satunya cara orang dapat bertahan hidup dan memiliki sedikit harapan di masa depan,” Assaf, yang sedang melakukan tur konser di Amerika Serikat, mengatakan hal itu melalui seorang penerjemah.

Sang penyanyi, yang merupakan duta perdamaian untuk badan PBB tersebut, mengatakan ia merindukan keluarganya di Gaza dan tidak yakin kapan dia akan dapat kembali ke wilayah yang sedang diblokade itu.

“Saya tidak akan pernah melupakan akar saya,” kata Assaf, 24, yang lahir di Libya tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya di kamp pengungsi Khan Younis di Gaza.

“Saya ingin kembali ke sana dan segera untuk bertemu dengan orangtua saya, tapi saya tidak akan memberikan tanggalnya,” katanya. “Saya merindukan keluarga saya, mereka tidak bisa berada di sini karena blokade itu.”

Leave a Reply
<Modest Style