Modest Style

Apalah Arti Sebuah Nama?

,

Kelly Darwish menjelaskan alasan ia mempertahankan namanya setelah menjadi mualaf.

(Image: Dreamstime)
(Image: Dreamstime)

Nama saya Kelly dan saya seorang muslim. Apakah ini sebuah kontradiksi?

Ketika menyapa orang untuk pertama kalinya, mereka biasanya mengharapkan nama eksotis saat kami berkenalan karena penampilan saya yang bercadar dan suami saya orang Mesir. Ketika saya menyatakan bahwa nama saya Kelly, orang yang saya ajak bicara biasanya terkejut. Saat itulah pertanyaan muncul dan saya harus menjelaskan bagaimana saya menjadi seorang mualaf.

Nama saya adalah nama yang sama yang diberikan orangtua ketika saya lahir. Saya bangga dengan nama saya. Selain nama ini pemberian orangtua, nama ini juga selalu mengarah ke diskusi tentang Islam. Nama ini memberi saya kesempatan untuk menyebarkan dakwah dengan membicarakan perjalanan saya menuju Islam.

Namun, banyak mualaf memilih untuk tidak mempertahankan nama lahir mereka dan mengadopsi nama ‘muslim’ (baca: Arab). Tapi apakah praktik ini wajib?

Jawabannya, tidak.

Seorang muslim ‘baru’ tidak diharuskan mengubah nama mereka kecuali nama itu mengandung penghambaan kepada seseorang atau sesuatu selain Allah. Ia juga tidak boleh terdiri dari atau menyiratkan sesuatu yang dilarang dalam Islam.

Nabi Muhammad (saw) dikisahkan mengubah nama-nama orang yang masuk Islam hanya karena nama mereka berlawanan dengan Islam, seperti Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’) karena kita menghamba hanya kepada Allah (swt).

Nabi (saw) juga menurut riwayat mengubah nama beberapa bayi yang lahir dalam Islam ketika mereka dibawa kepadanya. Dia diceritakan mengubah nama al-‘As, Aziz, Atalah, Shaytan, al-Hakam, Ghurab, Hubab, dan Shihab menjadi Hisyam. Ia juga mengubah nama Harb (perang) ke Silm (damai). Dia mengubah nama al-Mudtaji (orang yang berbaring) menjadi al-Munba’ith ‘(orang yang bangkit)[O1] . “[I]

Dalam hadis lain, Nabi (saw) diriwayatkan menanyakan nama seorang pria. Pria itu menjawab, Hazn ‘(sulit). Nabi (saw) kemudian diriwayatkan berkata, ‘Kamu adalah Sahl (enteng, mudah).’ Orang itu berkata, ‘Saya tidak ingin mengubah nama yang diberikan ayah saya.’ Cucu pria itu dikisahkan menyesali hal ini dan mengatakan setelahnya mereka terus mengalami kesulitan dalam keluarga mereka. [ii]

Satu-satunya waktu Nabi (saw) diriwayatkan pernah mengubah nama sahabatnya adalah ketika nama-nama itu memiliki arti negatif. Ia juga menyarankan orangtua untuk menamai anak-anak mereka dengan makna yang indah.

Al-Quran mengajarkan kita untuk menghormati dan mematuhi orangtua kita, seperti yang ditunjukkan oleh banyak ayat. Satu-satunya waktu kita diperbolehkan untuk tidak mematuhi orangtua adalah ketika mereka menyuruh kita melakukan hal yang dilarang dalam Islam dan menjauhkan kita dari Allah (swt). Inilah salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk mempertahankan nama pemberian mereka: untuk menghormati orangtua saya. Saya merasa bahwa jika saya mengubah nama saya, seolah-olah saya memisahkan diri dari orangtua yang sangat mencintai saya meskipun pandangan agama kami berbeda.

Di sisi lain, saya tahu banyak muslim yang baru berganti nama untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat di sekitar mereka dan agar tidak terlalu mencolok. Pada akhirnya, itu adalah pilihan pribadi Anda.

Saya katakan, banggalah akan nama Anda, apa pun itu, karena itu adalah kesempatan untuk menyebarkan dakwah ke mana pun Anda pergi.

 

[I] Diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyab, dalam Abu Dawud, tersedia di sini.

[Ii] Diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyab, di Al-Adab Al-Mufrad, tersedia di sini.

Leave a Reply
<Modest Style