Modest Style

Apakah Peran Seorang Ibu “Tidak Produktif”?

,

Peran seorang ibu masih dianggap “tidak produktif” secara ekonomi. Najwa Abdullah berbagi pandangannya tentang mengapa inilah saatnya untuk meredefinisi nilai perempuan yang sebenarnya, terutama ibu.

Ibu: Pembimbing kita dalam perjalanan panjang menuju kedewasaan (Gambar: Pixabay)
Ibu: Pembimbing kita dalam perjalanan panjang menuju kedewasaan (Gambar: Pixabay)

Terinspirasi oleh buku karya Ann Crittenden yang revolusioner dan membuka mata, The Price of Motherhood: Why the Most Important Job in the World Is Still the Least Valued, saya akhir-akhir ini memikirkan nilai sosial-ekonomi ibu dan perempuan di negara saya, Indonesia.

Seluruh pandangan saya tentang perempuan dalam ranah domestik berubah setelah membaca bab pertama buku tersebut yang begitu menarik, ‘The Truly Invisible Hands’ — Tangan-Tangan Tidak Terlihat. Bab tersebut dibuka dengan pertanyaan ini: “Siapakah yang berperan penting dalam menciptakan kemakmuran masyarakat Amerika —para pengusaha, CEO, politisi, buruh, investor — atau mungkin para ibunya?”

Saya tersentak ketika menyadari betapa pentingnya peran yang dimainkan ibu saya dalam kesuksesan anak-anaknya. Jika seorang ibu yang bekerja keras dan penuh komitmen dapat membesarkan seorang dokter, programmer dan guru seperti yang dilakukan ibu saya, maka apa yang dapat dilakukan ribuan, bukan, jutaan ibu yang berdedikasi terhadap komunitas yang lebih luas? Tentunya akan ada perubahan besar yang revolusioner dalam struktur sosial dan nasib ekonomi Indonesia.

Sayangnya, para ibu – khususnya yang tinggal di rumah — tidak dianggap sebagai faktor penentu dalam pembangunan ekonomi negara oleh pemerintah. Tanggung jawab dan peran seorang ibu tidak dilihat memiliki nilai moneter, sehingga dianggap “tidak produktif” dalam sistem ekonomi konvensional.[i]

Hal ini menyebabkan usaha serta kerja keras ibu di rumah diterima secara cuma-cuma. Saya pun merenung, dan bertanya, “Apakah semua ini tentang uang?” Jawabannya adalah: ya dan tidak.

Ya, karena apa yang dianggap “produktif” dalam arti ekonomi adalah ketika kita mendapatkan uang dari apa yang kita lakukan. Dengan tidak dibayar dan harus bergantung secara finansial terhadap suami, para ibu yang tidak bekerja di luar rumah biasanya mengalami subordinasi kekuasaan dalam relasi pernikahan dan rumah tangga. Mereka dilihat sebagai orang yang “tertanggung” ketimbang seseorang dengan profesi di dalam keluarga. Dalam konteks ekonomi, ketiadaan kontribusi keuangan telah membuat para ibu “tidak terlihat” dalam pengukuran GDP negara.

Tidak, karena saya yakin bahwa masalah masyarakat, khususnya di Indonesia, jauh melebihi wilayah ekonomi. Pertama-tama, hal ini berkaitan dengan persepsi sosial-budaya mengenai perempuan. Kita seringkali melihat keutamaan ibu sebagai “kodrat”; bahwa sudah hukum alam bagi wanita untuk menjadi ibu dan tinggal di rumah untuk mengasuh anak setelah menikah.

Sayangnya, perspektif ini menyebabkan pengikisan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi perempuan sebelum dan sesudah pernikahan. Seakan-akan kebutuhan perempuan untuk mendapatkan akses dan kesempatan yang setara untuk mengembangkan diri, terutama dalam pendidikan, berkurang.

Di beberapa daerah tertinggal di Indonesia, masih banyak keluarga yang tidak yakin untuk memberikan anak perempuannya fasilitas pendidikan sebaik anak laki-lakinya. Yang mereka inginkan adalah anak-anak perempuannya menikah dengan pria yang mapan. Mereka melihat hal tersebut sebagai cara untuk mendapatkan keamanan sosial dan ekonomi. Beberapa anak perempuan bahkan terpaksa menikah di usia yang masih sangat muda atas permintaan orang tuanya.

Bahkan di daerah perkotaan, masih banyak orang yang berpikir bahwa mengasuh anak tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Memiliki “kodrat” sebagai ibu telah menyebabkan banyak perempuan tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Pendidikan formal/tinggi hanya diperuntukkan bagi pria dan wanita yang mau membangun karir profesional di ranah publik.

Saatnya bagi kita untuk memikirkan kembali pandangan kita tentang kaum ibu. Kita memang mencintai ibu kita, tapi kenyataannya, ibu membutuhkan lebih dari sekedar cinta. Saya tidak mengatakan bahwa pemerintah harus membayar kerja keras seorang ibu dengan uang. Yang mereka butuhkan adalah penghargaan dan kesetaraan sosial yang konkrit, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Peran seorang ibu, yang sering dideskripsikan sebagai tulus, tanpa pamrih, dan bagian dari kewajiban pernikahan sebaiknya tidak lagi diterima begitu saja. Para ibu harus dianggap sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan sosial dan ekonomi negara; karena mereka adalah sumber daya manusia kita. Ibu membentuk seorang manusia sejak dini, yang akan lanjut berkontribusi untuk negara ketika dewasa.

Dalam hal ini, hak-hak perempuan sebagai ibu harus didukung oleh pemerintah. Kontribusi para ibu bagi kemakmuran dan kesuksesan suatu negara tidak seharusnya diabaikan. Perempuan butuh akses yang lebih baik ke pendidikan tinggi dan fasilitas kesehatan. Ibu yang bekerja di luar memerlukan lebih banyak dukungan dan fasilitas ibu dan bayi yang lebih baik di lingkungan kerjanya. Ibu perlu diberikan hak untuk memutuskan apa yang mereka inginkan bagi kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya. Pada akhirnya, para ibu harus dipertimbangkan dalam kebijakan sosial dan politik yang lebih luas.

Untuk mewujudkan hal ini, seseorang harus mencoba untuk tidak melihat uang sebagai ukuran yang absolut dalam proses produksi. Terkadang dalam hidup, kita harus melihat sesuatu secara seksama dan dalam-dalam, untuk melihat nilai yang sebenarnya. Dengan menilai kembali harga dan nilai keutamaan ibu, kita akan menyadari bahwa masyarakat kita telah salah selama ini.


[i] Ann Crittenden mendiskusikan “systematic exploitation of mothers” dalam sebuah sistem yang semuanya diukur dengan transaksi keuangan. Lihat ‘The Truly Invisible Hands’ karya Ann Crittenden dalam The Price of Motherhood: Why the Most Important Job in the World Is Still the Least Valued, hal. 55-62. (Holt Paperbacks, 2001).

Leave a Reply
<Modest Style