Modest Style

Apakah Islam Perlu Feminisme?

,

Amani Alkhat bertanya-tanya apakah Islam dan feminisme dapat bersatu padu.

WP-Islam-feminism-sm

Feminisme.

Dalam banyak masyarakat muslim, kata di atas mudah sekali menimbulkan konotasi negatif. Dan di kalangan perempuan dari komunitas ini, gerakan feminisme identik dengan sebuah stigma yang dipahami secara berbeda-beda.

Problem saya dengan feminisme adalah gerakan ini telah didominasi para perempuan Barat kulit putih dari kelas menengah. Sebagian besar dari mereka menjunjung tinggi definisi tunggal pemberdayaan perempuan untuk segala situasi. Selama bertahun-tahun, standar umum feminisme telah diaplikasikan pada perempuan dari semua budaya. Standar ini menegaskan bahwa pada intinya, feminisme bertujuan menghapuskan posisi biner dominan-submisif (pendapat yang menyatakanbahwa individu yang dominan membutuhkan pasangan yang submisif alias penurut, yang akan membantu mereka untuk saling memenuhi kebutuhan).

Di sinilah feminisme mulai lepas kendali. Feminisme Barat sering keliru memaknai konsep feminisme secara menyeluruh. Mayoritas perempuan muslim bergidik membayangkan anjuran dari apa yang kita lihat para perempuan kulit putih yang menyuruh kita melepas kerudung demi membebaskan diri kita; kaum eksibisionis yang memamerkan payudara mereka seraya menegaskan sedang memperjuangkan kebebasan kita; dan pelbagai sikap agresif sok melindungi tapi sekaligus merendahkan yang dilakukan secara frontal — semuanya berupaya menyadarkan kita betapa terbelakang, rendah dan amat sangat bodohnya cara hidup kita.

Sayangnya, gerakan feminisme telah dinodai berbagai prasangka negatif yang bersifat merusak. Sebagian besar  prasangka itu dipicu omong-kosong karangan media dengan maksud menghalangi massa untuk mewujudkan kesetaraan gender serta meneguhkan ambisi patriarkat di masyarakat kita. Dan, tentu saja, mayoritas pria — adakalanya termasuk pria muslim—larut dalam prasangka tersebut dan menggunakan kesempatan yang ada untuk mencela serta menertawakan aksi feminisme yang tanpa disadari bertujuan melestarikan standar Islam atas kesetaraan. Sangat sulit untuk mewujudkan hal ini tatkala begitu banyak pemimpin agama dan politik yang memutarbalikkan Islam supaya sesuai dengan kerangka pikir patriarkat mereka. Akan tetapi, salah kaprah paling destruktif terjadi saat para muslimah mulai memandang feminisme sebagai pelanggaran tabu.

Ketika kita menganggap Islam telah memberikan semua hak perempuan yang dibutuhkan, akan lebih mudah untuk memandang feminisme sebagai hal yang merugikan iman. Di titik inilah kita perlu memahami adanya kesadaran yang kuat: Islam dan feminisme tidaklah eksklusif.

Selain reputasi sosialnya yang buruk, hal lain dari feminisme adalah kita cenderung memahami konsepnya dengan pola pikir kita.  Intisari feminisme adalah kesetaraan, martabat dan perwujudan rasa hormat—tidak hanya di antara pria dan wanita, tapi juga di seluruh strata sosial-ekonomi, ras dan agama.

Kedengarannya familiar?

Islam telah menggariskan segala harapan tersebut bagi kita seribu tahun sebelum para feminis masa kini berkoar-koar menuntutnya. Ajaran agama kita sangatlah revolusioner sehingga masyarakat terbelakang yang hidup sebelum periode masuknya Islam dijuluki hidup di ‘Zaman Jahiliah (Kebodohan)’. Masa itu ditandai oleh kesenjangan sosial yang mencolok, terutama di kalangan anak perempuan dan wanita, yang digambarkan dengan kelaziman membunuhi bayi-bayi perempuan di Arab sebelum datangnya Islam. Standar baru kesetaraan yang ditawarkan Islam tidak hanya diberikan kepada kaum perempuan, tapi juga menerobos ke semua lapisan masyarakat.

Pada masa awal masyarakat Islam, di antara sekian banyak hak yang dinikmati perempuan terdapat hak finansial, sosial, bahkan hak seksual — benar-benar meredefinisi posisinya di masyarakat. Sejumlah tafsiran terhadap ayat-ayat Quran menyatakan bahwa penghasilan perempuan adalah miliknya sendiri, dan suaminya tidak berhak untuk mengakuinya (4:34). Ketentuan ini tidak hanya memberi jaminan perlindungan keuangan, tapi juga menunjukkan dukungan tak langsung terhadap hak perempuan untuk bekerja. Islam juga mempersembahkan hak pernikahan kepada perempuan, seperti memberikan hak yang setara untuk meminta cerai (2:237, 4:35). Nabi Muhammad SAW bicara mengenai persamaan nilai anak perempuan dengan anak laki-laki serta haknya untuk mendapatkan pengasuhan yang sama. Tata krama juga sangat dianjurkan di antara kedua jenis kelamin (24:30-31). Selain itu, sejumlah besar orang pun telah memahami hijab sebagai pernyataan bahwa perempuan wajib dianggap sebagai manusia, bukan benda.

Dalam definisi modern, Islam adalah feminis sejati.

Agama kita telah menjamin hak-hak perempuan 1.400 tahun yang lalu — hak-hak yang masih harus diperjuangkan perempuan masa kini dari komunitasnya. Saya yakin Islam adalah agama pertama di dunia yang secara eksplisit menetapkan kesetaraan hak bagi perempuan. Inilah standar yang kita butuhkan. Kita adalah perwakilan yang aktif dari manifestasi feminisme. Ini semua menuntut kita untuk tidak sekadar bangga menjadi feminis, tapi juga menerapkan feminisme secara total.

Sebagai perempuan muslim, salah satu hal dahsyat yang kita dapat lakukan (secara sah!) adalah menyadari diri kita sebagai feminis. Ketimbang menolak gerakan feminisme, kita perlu menyuntikkan semangat feminis ke dalam diri kita dan mulai mendefinisi ulang makna pemberdayaan dan kebebasan menurut versi kita — bukan definisi yang sudah ditanamkan kepada kita. Yang kurang dari feminisme aliran utama saat ini adalah suara dari perempuan beda budaya yang berdiri dan bicara untuk dirinya sendiri. Tanggung jawab kitalah untuk membuat dunia memperhitungkan suara kita.

Meredefinisi makna feminisme tidak hanya memberdayakan kita, tapi juga membuat kita lebih mendapat perhatian global. Mengidentifikasi diri kita sebagai feminis berarti mengirim pesan inovatif kepada orang di seluruh dunia yang masih memandang perempuan muslim sebagai makhluk yang bisa diperlakukan seenaknya. Upaya ini memberi kita kesempatan untuk membalikkan stigma ke posisi semula, dalam bahasa yang dapat dengan lantang dan jelas didengar semua orang.

Para feminis Islam mengenali potensi feminisme dalam mengubah masyarakat sekaligus memperoleh hak-hak yang kita, seperti halnya semua perempuan di dunia, perjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Mengikuti ajaran Islam sama artinya dengan menjadi feminis — secara alami, dalam definisi kita sendiri.

Leave a Reply
<Modest Style