Modest Style

Apa yang Dibaca Para Tahanan di Penjara Guantanamo?

,
000_Nic624075643
Catatan foto: Para narapidana di Kamp VI Tahanan Teluk Guantanamo mengantre buku-buku dan majalah perpustakaan dari balik pagar besi. AFP Photo / Paul J. Richards

PANGKALAN ANGKATAN LAUT AMERIKA SERIKAT TELUK GUANTANAMO, 16 Agustus 2013. Oleh Chantal VALERY (AFP)—Di Guantanamo, sejumlah narapidana tidak hanya membaca Quran. Mereka pun memburu buku thriller erotis yang sedang populer, ‘Fifty Shades of Grey’. Dan, walaupun ada peraturan ketat mengenai isi koleksi perpustakaan, para petugas penjara ternyata mengizinkan mereka membacanya.

Setelah kunjungannya baru-baru ini ke penjara AS di Kuba tersebut, anggota Kongres Jim Moran mengejutkan beberapa kalangan saat mengungkapkan bahwa buku cabul itu merupakan yang paling dicari para tahanan tingkat tinggi AS di di Kamp 7.

Kamp 7 adalah kamp berkeamanan paling tinggi di penjara Guantanamo. Dari selusinan tahanannya, terdapat lima pria yang didakwa merencanakan serangan 11 September 2001.

Pernyataan Moran semakin mengejutkan karena, menurut pustakawan Guantanamo, buku-buku atau video yang memuat ‘terlalu banyak seks, terlalu banyak kekerasan, ekstremis atau rasial’ dilarang keras.

Seorang pustakawan yang dipekerjakan Pentagon, yang hanya menyebutkan nama depannya, yaitu Milton, ditugaskan untuk meninjau semua buku, film dan permainan yang diminta para pria penghuni Kamp 5 dan 6—tempat mendekam mayoritas narapidana Guantanamo yang berjumlah 166—serta mengajukan penilaiannya kepada dewan budaya.

Akan tetapi, sejak awal, dia menyisakan beberapa buku yang memuat ‘pornografi dan kekerasan’ dari total koleksi yang berjumlah sekitar 18.000 itu bagi para tahanan. Penjara Guantanamo memiliki anggaran perpustakaan per kuartal sebesar $3,000-4,000. (Rp 31-42 juta).

Meski begitu, entah bagaimana, bacaan seronok trilogi ‘Fifty Shades of Grey’—yang dijuluki beberapa orang sebagai ‘mommy porn’ (pornografi ibu-ibu)—berhasil sampai ke tangan mereka yang dianggap paling konservatif dalam beragama di Guantanamo.

Seorang juru bicara penjara membenarkan bahwa seri karya penulis Inggris E.L. James itu memang ada di perpustakaan Kamp 7.

‘Buku itu sama sekali bukan buku yang dilarang,’ ujar Kapten Angkatan Darat Andi Hahn kepada AFP.

‘Buku itu sudah mendapat izin. Jika tahanan meminta sebuah buku, akan diberi izin sepanjang buku itu tidak menyebabkan kontroversi di kamp.’

Mustahil untuk mengetahui apakah ‘Fifty Shades of Grey’—yang telah terjual lebih dari 70 juta kopi di seluruh dunia—bisa diterima para tahanan melalui rute yang resmi atau tidak.

‘Buku itu tidak diperoleh melalui kami, kami tidak menyediakannya,’ tutur Milton. ‘Apa yang mereka lakukan di luar (Kamp 7), saya tidak mengetahuinya.’

Tidak ada yang diperbolehkan untuk menceritakan apa saja yang terjadi di Kamp 7. Akses menuju fasilitas itu pun terbatas hanya untuk sedikit kalangan khusus, termasuk anggota kongres dengan izin keamanan.

Di salah satu kunjungannya itulah Moran mendengar tentang popularitas seri ‘Fifty Shades of Grey’—yang menjelaskan penggunaan borgol dan penutup mata selama hubungan seks—dari komandan Kamp 7.

‘Saya rasa tidak banyak yang terjadi. Para pria itu tidak bisa ke mana-mana, jadi peduli apa,’ ungkap Moran.

Baginya, kenyataan itu mengklarifikasi persepsi tentang para tahanan Kamp 7, yang kerap muncul di persidangan dalam balutan busana tradisional dan menggelar sajadah mereka.

Januari 2012, sebuah majalah terbitan Al-Qaeda, yang merupakan barang selundupan, ditemukan di dalam penjara Guantanamo sehingga memicu pemeriksaan yang lebih ketat akan pertukaran surat antara tahanan dan pengacara mereka.

Seperti semua penerbitan Islam berpengaruh lainnya, majalah ‘Inspire’ yang diterbitkan Al-Qaeda di Semenanjung Arab, telah dan tetap dianggap terlarang bagi para tahanan yang merupakan tersangka anggota jaringan atau pelaku teroris itu.

Walau begitu, mereka yang dipenjara di Kamp 7—narapidana yang sempat dianggap ‘terburuk dari yang paling buruk’, meski banyak dari mereka ditahan tanpa diadili—memiliki akses ke sejumlah besar pilihan karya sastra.

Selain ‘Fifty Shades of Grey’, pilihan yang disediakan termasuk buku-buku agama, novel kriminal, jurnal kesehatan dan bahkan novel Harry Potter dalam bahasa Arab, Rusia, Perancis, Pashtun, Persia, Urdu dan tentu saja, Inggris.

‘Buku-buku agama dalam bahasa Arab adalah yang paling populer’ di Kamp 5 dan 6, ujar Milton.

Sejumlah film dokumenter dan majalah-majalah sepak bola pun termasuk bacaan yang banyak diminta.

Komoditas lain yang sama larisnya adalah permainan video ‘Tomb Raider’, tambah Milton, walaupun seorang tahanan telah menggunakan spidol untuk menutupi pusar dan belahan dada jagoan perempuannya—rupanya dianggap terlalu seksi—pada bungkusnya.

Leave a Reply
<Modest Style