Modest Style

Amina dari Tunisia Keluar dari Femen, Tuduh Kelompok atas Perilaku Islamofobia

,
File gambar:  Sebuah gambar yang diambil tanggal 1 Agustus 2013, memperlihatkan Amina Sboui, seorang aktivis muda dari Tunisia dengan kelompok pendemo telanjang-dada, Femen, mengacungkan tanda ‘victory’ (kemenangan) setelah pembebasannya dari penjara di Sousse, sebelah selatan Tunis, tempat ia mendekam sejak 19 Mei. Foto AFP/ Bechir Bettaieb
File gambar: Sebuah gambar yang diambil tanggal 1 Agustus 2013, memperlihatkan Amina Sboui, seorang aktivis muda dari Tunisia dengan kelompok pendemo telanjang-dada, Femen, mengacungkan tanda ‘victory’ (kemenangan) setelah pembebasannya dari penjara di Sousse, sebelah selatan Tunis, tempat ia mendekam sejak 19 Mei. Foto AFP/ Bechir Bettaieb

TUNIS, 20 Agustus 2013, (AFP) – Amina Sboui, seorang aktivis Tunisia yang dijatuhi hukuman tahanan hampir tiga bulan lamanya, mengatakan pada hari Selasa bahwa ia telah meninggalkan kelompok demonstran perempuan beraliran radikal, Femen, menuduh kelompok itu sebagai Islamofobia.

‘Saya tidak menginginkan nama saya tersangkut-paut dengan sebuah organisasi Islamofobia,’ demikian dikatakan kepada edisi Maghreb dari Huffington Post.

‘Saya tidak menghargai aksi yang dilakukan para gadis yang berteriak ‘Amina Akbar, Femen Akbar’ di depan kedutaan Tunisia di Paris,’ ujar Sboui.

Yel-yel itu adalah bentuk parodi dari Allahu Akbar (Allah Maha Besar), sebuah frasa yang diucapkan umat muslim untuk mengekspresikan ketundukan dan bentuk pengagungan bagi Tuhan.

Amina juga mengkritik tindakan pembakaran bendera hitam Tauhid, bentuk pernyataan keesaan Tuhan, di depan sebuah masjid di Paris.

‘Tindakan itu menyinggung banyak umat muslim dan rekan-rekan saya. Kita harus menghormati keyakinan setiap orang,’ ia menambahkan.

Protes kelompok Femen terjadi saat Sboui menjalani penahanan pra-pengadilan karena menuliskan kata ‘Femen’ pada sebuah dinding pemakaman dalam aksi protesnya untuk sebuah pertemuan yang direncanakan oleh kelompok muslim radikal Salafi di bulan Mei di pusat kota Kairouan.

Ia kemudian dibebaskan pada awal Agustus sambil menunggu pelaksanaan persidangannya perihal penodaan makam.

Perempuan muda ini juga mengkritik tak adanya transparansi finansial dalam organisasi Femen, gerakan yang dibentuk di Ukraina dan kini berbasis di Paris, kemudian menjadi terkenal setelah aksi protes telanjang-dada melawan kediktatoran dan mendukung hak-hak perempuan.

‘Saya tidak paham bagaimana gerakan ini dibiayai. Saya menanyakannya (kepada pimpinan Femen, Inna Shevchenko) beberapa kali, namun saya tak mendapatkan jawaban yang jelas. Saya tak ingin berada dalam gerakan yang dibiayai oleh sumber dana yang mencurigakan. Bagaimana jika mereka dibiayai oleh Israel? Saya ingin kejelasan.’

Amina, yang kini menyebut dirinya sendiri sebagai ‘anarkis’, menyulut skandal sekaligus gelombang dukungan online di awal tahun ini setelah ia diancam oleh kelompok Islam garis keras Tunisia yang semakin asertif atas aksinya mengunggah foto dirinya bertelanjang-dada di Facebook.

Pada penghujung Mei, tiga orang aktivis Femen – dua dari Perancis dan seorang dari Jerman – ditangkap, dan akhirnya dibebaskan, karena mempertontonkan dada mereka di luar gedung pengadilan utama Tunis, dalam aksi demonstrasi dukungan terhadap Amina.

Minggu yang baru lalu, Sboui mempublikasikan sebuah foto terbarunya bertelanjang-dada di internet sambil menyalakan sebuah bom molotov dengan sebuah rokok.

Leave a Reply
<Modest Style