Modest Style

Alkohol dan Umat Muslim Masa Kini

,

Penggunaan alkohol, dalam masyarakat Muslim atau bukan, tidak boleh disembunyi-sembunyikan, jika kita mau menemui solusinya. Oleh Jo Arrem.

Aquila-Style-Tunnel-Vision

Arak, daru, sharaab, alkohol.

Namanya bisa jadi beragam dalam berbagai bahasa, tapi esensinya sama. Bergantung dari sisi mana kita melihatnya, kata-kata ini bisa membangkitkan nuansa romansa dari keindahan puisi seorang hafiz atau malahan kekakuan sebuah khotbah di masjid mengutuk kebatilannya.

Sebagian masyarakat muslim memandang meminum alkohol sebagai dosa yang mengerikan dan lambang kejahatan. Sebagian yang lain memandangnya semata-mata sebagai sebuah pemuasan kesenangan sesaat. Beberapa orang melakukannya sembunyi-sembunyi, yang lainnya secara terang-terangan. Sementara ada yang khawatir berkepanjangan mereka akan berdosa ketika menggunakan pencuci tangan atau penyegar mulut yang mengandung alkohol. Kategori yang disebut terakhirlah yang mendominasi wacana tentang alkohol di kalangan umat muslim.

Mereka yang memang meminum alkohol biasanya cenderung menghindari diskusi seperti ini dan secara pribadi berharap terhindarkan dari perdebatan kontroversial yang penuh emosi. Intensitas emosional yang melingkupi isu ini menjadikannya sebagai isu yang paling sering menyebabkan polariasi di kalangan muslim. Begitu terpolarisasi bahkan sampai enggan untuk menyinggungnya.

Kebijakan pemerintah tentang konsumsi alkohol oleh umat muslim terbagi dua, dengan peraturan yang rentang keketatannya beragam. Di beberapa negara, seseorang bisa dijatuhi hukuman penjara atau cambuk karena minum alkohol. Sementara di negara lain, alkohol tersedia bebas dan bahkan petugas pemerintah tak malu terlihat mengonsumsi alkohol.

Walau bagaimanapun, kenyataannya adalah tidak sedikit umat muslim meminum alkohol. Bukti anekdotal mengindikasikan bahwa jumlahnya terus bertambah. Di sebagian besar negara-negara sekuler, alkohol mudah didapati. Kaum muslim, apakah sedang berkunjung, bersekolah atau menetap di sana, akan mudah untuk mendapatkannya, baik di sekolah, rumah teman-temannya, resto, bar dan klab malam. Di kebanyakan negara Islam, alkohol resminya dilarang. Namun ‘orang dalam’ tampaknya paham betul cara mendapatkannya, dan memang demikian adanya. Mulai dari botol-botol yang disajikan terang-terangan di klab malam bergengsi di Dubai hingga gelas-gelas minuman keras yang ditutupi serbet di Lahore, Pakistan, minuman yang dinikmati itu sebetulnya sama saja.
Walau begitu, larangan atas alkohol tetap menjadi salah satu aspek penting identitas muslim. Jadi, bagaimana kaum muslim peminum alkohol dapat menyelaraskan kebiasaannya minum alkohol dengan imannya?

Namun, di masyarakat yang masih sangat menabukan konsumsi alkohol, kesempatan untuk edukasi, diskusi, dan bimbingan konsumsi alkohol masih rendah

Sebagian orang merasa nyaman dengan pilihannya, seperti pendapat Abdul, pria 20 tahunan asal Mesir. “Saya tidak percaya bahwa ketika mengonsumsi alkohol dalam batas wajar, saya sudah merugikan orang lain. Saya rasa esensi dari Islam atau agama lain adalah tidak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain di sekelilingmu. Konsumsi alkohol dalam batas wajar masuk dalam kategori itu.”

Di Jakarta, perempuan 30 tahun bernama Mely, 30 tahun, merasa lega masyarakat tidak mempermasalahkan konsumsi alkohol. “Masyarakat menerima kenyataan bahwa saya mengonsumsi alkohol, saya tidak merasa bersalah, meskipun dalam Al Qur’an apa yang saya lakukan tergolong sebuah dosa. Saya tahu beberapa perempuan berhijab yang bahkan melepas kerudung mereka dan menggunakan wig untuk pergi clubbing dan minum minuman keras. Mereka tidak ingin ketinggalan zaman.”

Sekalipun tidak mempermasalahkan pilihan minum alkohol, sebagian orang tetap memegang keyakinan bahwa meminum alkohol adalah sebuah dosa dan memalukan. “Saya tidak mempermasalahkan, walaupun saya tahu masyarakat tidak menyetujui,” tutur Zara, seorang muslimah usia 26 tahun yang bersekolah di Australia. “Saya tidak akan menutup-nutupinya kecuali di lingkungan terbatas yang bisa membuat orangtua saya malu.”

Rahman, 30 tahun, di Malaysia malahan mengutarakan secara gamblang, “Saya rasa ini adalah sebuah dosa yang saya pilih untuk saya lakukan.”

Sebuah pertanyaan yang lebih besar ditujukan bagi komunitas muslim terkait penggunaan alkohol, yaitu apakah isu ini bisa didiskusikan lebih lanjut tanpa semakin memperlebar jurang pemisah antara mereka yang mengonsumsi dan mereka yang tidak. Seluruh masyarakat – apakah itu muslim atau bukan – harus bergulat menghadapi isu penggunaan alkohol ini. Terlepas dari pengajaran agama, masyarakat harus mengedukasi para “peminum” untuk mampu mengelola penggunaan alkohol secara bijak. Alkohol adalah substansi yang jika tidak dikelola dengan bijak, dapat menimbulkan kerugian yang serius – secara langsung, dengan adanya permasalahan kesehatan, dan secara tidak langsung, dengan adanya kecelakaan akibat pengemudi yang mabuk, misalnya.

Namun, di masyarakat yang masih sangat menabukan konsumsi alkohol, kesempatan untuk edukasi, diskusi, dan bimbingan konsumsi alkohol masih rendah. Ini bisa mengakibatkan kaum muslim yang mengonsumsi alkohol – terutama kaum muda – semakin rawan terhadap dampak-dampak negatif dari penggunaan alkohol dibandingkan dengan mereka yang mampu menerima diskusi terbuka bersama para orang tua maupun pemimpin masyarakat tentang penggunaan alkohol.

Tantangan bagi mereka yang peduli akan hal ini adalah menciptakan sebuah area yang aman, di mana kaum muda umat muslim khususnya, dapat melibatkan para orang tua, pemuka agama, dan para tetua lainnya dalam diskusi ini tanpa rasa takut atau waswas akan kecaman dan tindakan marjinalisasi. Pertemuan ini perlu dilakukan tanpa berlindung di balik fatwa-fatwa dan segala bentuk penghakiman.

Di banyak komunitas muslim, para orangtua dan guru menganggap bahwa sekadar membicarakan alkohol pun dianggap seperti menghalalkannya. Sehingga topik tersebut menjadi tidak tersentuh kecuali dengan cara yang menghina dan menghakimi. Dalam masyarakat di mana alkohol biasa dikonsumsi, kampanye edukasi masyarakat dan keterlibatan orang tua, sekolah bahkan institusi agama memainkan peran positif dalam memberdayakan kaum muda untuk mengelola pola konsumsi alkohol secara bijak. Tentu saja ini lebih baik bagi para remaja ketika mereka merasa aman mengakui kepada orang tua bahwa alasan mereka tidak mengemudi pulang adalah karena baru saja mengonsumsi alkohol, dibandingkan dengan merasa takut akan menimbulkan masalah sehingga mempertaruhkan nyawa dengan mengemudi mobil untuk pulang ke rumah.

Ini tentunya lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan. Persepsi negatif tentang karakter peminum alkohol sudah kokoh terpatri dalam hati kaum muslim kebanyakan. Dan seringkali kondisi ini diperparah dengan konsepsi budaya yang kuat tentang kehormatan keluarga yang harus dilindungi dari perilaku yang dianggap memalukan tanpa toleransi. Menjadi hal yang mendesak bagi para pemimpin komunitas muslim agar segera menangani realita dari isu-isu terkait dan memungkinkannya untuk didiskusikan lebih lanjut, tidak peduli seberapa sulit dan tak nyaman keadaan yang harus dihadapi.

Leave a Reply
<Modest Style