Modest Style

Aktris Bollywood Dukung Kampanye ‘Dark is Beautiful’

,
Foto yang diambil 19 Maret 2013 ini menampilkan aktris film Bollywood, Nandita Das, saat menghadiri acara 'Loreal Paris Femina women Awards' di Mumbai. Sebagai model anyar kampanye “Dark is Beautiful”, Nandita mengecam obsesi bangsa India terhadap kulit yang lebih putih. AFP PHOTO/FILES
Foto yang diambil 19 Maret 2013 ini menampilkan aktris film Bollywood, Nandita Das, saat menghadiri acara ‘Loreal Paris Femina women Awards’ di Mumbai. Sebagai model anyar kampanye “Dark is Beautiful”, Nandita mengecam obsesi bangsa India terhadap kulit yang lebih putih. AFP PHOTO/FILES

MUMBAI, 25 Oktober 2013 (AFP) oleh Rachel O’BRIEN – Apakah Anda sedang mencari suami, teman, dan kenaikan jabatan di kantor? Kalau begitu Anda memerlukan kulit yang lebih putih. Demikianlah pesan yang sedang mewabah di India dan yang sedang diperjuangkan seorang aktris untuk dijungkirbalikkan.

Wajah baru kampanye “Dark is Beautiful”, Nandita Das, telah mengecam obsesi bangsa India terhadap kulit yang lebih putih. Prasangka ini menurutnya telah menyebabkan sejumlah perempuan muda berpikir untuk bunuh diri.

“Di majalah, TV, film—di mana-mana kulit putih selalu disamakan dengan kecantikan,” ujar Das kepada AFP.

Digambarkan berkulit “gelap”, lawan kata dari berkulit putih, perempuan 43 tahun ini sudah terbiasa dengan obsesi masyarakat India terhadap warna kulit. Kondisi ini tidak hanya terjadi di industri film, di mana dia telah menolak permintaan untuk memutihkan kulitnya demi sejumlah peran.

“Bagaimana Anda bisa begitu percaya diri meski kulit Anda begitu gelap?” adalah pertanyaan yang sering diajukan kepada Das. Memilih untuk membintangi sejumlah film kecil yang mengangkat isu tertentu, dia mengatakan dirinya harus berjuang untuk bisa bermain dalam film-film besar Bollywood.

‘Kecantikan Melampaui Warna Kulit’

Mei lalu, Das menjadi model kampanye “Dark is Beautiful” yang diluncurkan pada 2009 oleh kelompok aktivis Women of Worth untuk merayakan “Kecantikan Melampaui Warna Kulit”.

Dukungannya telah membantu memunculkan peningkatan debat di media. Akan tetapi, respons yang muncul justru mempertegas betapa dalamnya keinginan untuk memiliki kulit lebih putih, yang sudah lama diasosiakan dengan kasta dan kelas sosial yang lebih tinggi.

“Saya mulai menerima banyak sekali email dari perempuan muda yang mencurahkan perasaan mereka tentang bagaimana mereka menghadapi diskriminasi. Beberapa ingin bunuh diri karena mereka tidak bisa berkulit putih,” ungkapnya.

Das mendapati fotonya dibuat lebih terang oleh sebuah surat kabar, bahkan untuk artikel tentang kampanyenya. Saat mencari pengasuh anak, dia diberi tahu bahwa salah satu kandidatnya “baik, tapi kulitnya agak gelap”.

Di tengah tekanan untuk berkulit putih ini, pasar krim pemutih di India meningkat dari $397 juta (Rp 4,4 triliun) pada 2008 menjadi $638 juta (Rp 7,1 triliun) selama empat tahun. Demikian menurut para peneliti pasar di biro Euromonitor International.

Menurut laporan mereka, produk-produk pemutih kulit menyumbang 84% dari pasar pelembap wajah tahun lalu di negara itu.

Prasangka yang dihadapi kaum perempuan berkulit lebih gelap kembali muncul September silam ketika seorang perempuan asal India, Nina Davuluri, memenangi kontes “Miss America” di Amerika Serikat.

“Jika dia tinggal di India, jauh dari mengikuti kontes kecantikan, besar kemungkinan di masa remajanya Nona Davuluri akan terbiasa mendengarkan mayoritas komentar meremehkan tentang warna kulitnya,” tulis tajuk berita di surat kabar The Hindu.

“Dia akan menjadi—sesuai alur cerita iklan-iklan krim paling ‘putih’—seseorang yang kurang percaya diri dan hanya mempunyai sedikit teman.”

Krim pemutih vagina

Tahun lalu, hadir iklan “pembersih bagian intim” untuk memutihkan vagina, menampilkan perempuan India muda yang menggunakan produknya dan berhasil mendapatkan kembali perhatian sang kekasih.

Iklan tersebut mendapat sorotan luas, namun pengamatan sekilas terhadap situs-situs jodoh dan kolom-kolom di koran mengindikasikan bahwa kulit putih, setidaknya pada wajah perempuan, tetap menjadi kunci dalam memperoleh suami India.

Dalam iklan mereka, para anggota laki-laki sering menyatakan keinginan untuk memiliki pengantin perempuan berkulit putih. Sementara itu, hampir semua profil anggota perempuan menerangkan warna kulit mereka sebagai putih atau “kuning langsat”.

Ekta Gosh, perancang mode di Mumbai yang khusus mendesain busana pengantin, mengatakan bahwa pesan mengenai hanya kulit putih-lah yang dianggap cantik telah diwariskan kepada gadis-gadis India selama beberapa generasi.

“Para orangtua, kerabat, mereka semua terus mengatakan Anda harus melakukan sesuatu untuk memutihkan warna kulit Anda,” tuturnya.

Pelopor produk pemutih untuk pasar massal di India adalah “Fair & Lovely”, diluncurkan pada 1975 oleh Hindustan Unilever Ltd. Kini, perusahan tersebut telah menjual produknya ke berbagai negara lain di mana kulit putih menjadi idola, antara lain di seluruh Afrika, Timur Tengah dan Asia.

Grup perusahaan konsumen India, Emami, kemudian hadir dengan produk “Fair and Teen” untuk gadis remaja dan “Fair and Handsome” untuk kaum pria.

Dipromosikan superstar Bollywood, Shah Rukh Khan, iklan “Fair and Handsome” menampilkan dirinya sedang melempar tabung krim dari karpet merah ke seorang pemuda penggemar.

“Dark is Beautiful” telah meluncurkan petisi terhadap video iklan yang dianggap “tidak bertanggung jawab” itu serta pesan yang dibawanya bahwa “kulit putih merupakan prasyarat kesuksesan”.

Sejauh ini sudah lebih dari 15.000 orang yang telah menandatangani petisi tersebut sebagai tanda protes. Akan tetapi, belum ada respons apa pun dari Khan.

“Anda sedang mengatakan kepada orang banyak bahwa mereka tidak cukup baik,” kata Das, yang secara umum menggambarkan iklan-iklan pemutih kulit sebagai “kolot dan menghina”.

Para produsen krim pemutih mengesankan mereka mempunyai andil dalam menambah kepercayaan diri pemakainya, walaupun baik Emami maupun Hindustan Unilever sama-sama menolak mengomentari petisi tersebut.

Meski demikian, tidak semua orang yakin krim-krim tersebut efektif.

Resepsionis Prachi Chawan (28) mengatakan dia telah menggunakan produk-produk Fair & Lovely selama tiga tahun “karena kebiasaan”, namun belum melihat hasil yang memuaskan.

“Belum ada efek samping tapi perubahannya juga belum kelihatan,” ujarnya.

Das percaya para pembuat krim pemutih bukan pihak yang menimbulkan prasangka dan perasaan tidak aman terhadap warna di India, tetapi yang telah “menguangkannya”, sehingga terciptalah “lingkaran setan”.

Biarpun produk pemutih kulit untuk pria semakin populer, sang aktris mengatakan tekanan yang dihadapi perempuan dan gadis remaja atas warna kulit mereka masih jauh lebih besar. Menurutnya, hal ini secara umum menimbulkan kurangnya rasa hormat dan ketidaksetaraan.

“Sampai bangsa kami membiarkan perempuan memiliki ruang yang sama dengan laki-laki dan memperlakukan mereka sebagai manusia, semua langkah ini akan terus berlanjut.”

Leave a Reply
<Modest Style