Modest Style

Abaikan Tabu, Korban Perang Suriah Dirawat di Israel

,
Seorang dokter Israel menunjukkan kaki palsu kepada seorang gadis cilik Suriah yang terbaring di ranjang pasien, Rabu (28/8). Korban luka dalam pertempuran yang berlangsung di Suriah ini dirawat di RS Ziv yang terletak di kota Safed, Israel utara. AFP Photo / Menahem Kahana
Seorang dokter Israel menunjukkan kaki palsu kepada seorang gadis cilik Suriah yang terbaring di ranjang pasien, Rabu (28/8). Korban luka dalam pertempuran yang berlangsung di Suriah ini dirawat di RS Ziv yang terletak di kota Safed, Israel utara. AFP Photo / Menahem Kahana

SAFED, 29 Agustus 2013. Oleh John DAVISON (AFP) – Jarak bangsal rumah sakit yang tenang di wilayah utara Israel itu sangat jauh dari kerusakan akibat perang sipil di Suriah. Akan tetapi, puluhan warga Suriah yang terluka—tanpa mengindahkan larangan yang sudah lama berlaku terkait negara Yahudi itu—dirawat di sini.

Fatima, perempuan Suriah yang dibawa ke RS Ziv dengan putrinya setelah ledakan di kota mereka, Daraa, menghancurkan kaki mereka, memuji-muji kinerja staf medis.

‘Mereka peduli pada kami dan sangat menghormati kami,’ ujarnya.

Namun, mengingat Suriah dan Israel secara teknis masih terlibat perang menyusul sejumlah konflik selama 1967 dan 1973, Fatima enggan mengungkapkan identitas aslinya, dan meminta agar namanya dan nama putrinya disamarkan.

‘Tolong jangan perlihatkan wajah kami,’ pintanya kepada fotografer AFP.

Ibu sembilan anak berusia 41 tahun yang kehilangan kontak dengan keluarganya setelah ledakan lebih dari sebulan yang lalu itu adalah satu dari 73 warga Suriah yang telah mendapat perawatan di Israel atas luka-luka mereka sejak awal tahun ini.

‘Saya menjadi tuli akibat ledakan itu,’ tutur Fatima kepada AFP dari atas tempat tidurnya di rumah sakit yang terletak di puncak bukit berbatu kota sebelah utara Laut Galilee, Safed.

‘Saya tidak sadar, dan tidak tahu bagaimana saya bisa ada di sini atau siapa yang membawa saya. Saya ingat orang-orang mengangkat saya dan membantu saya, dan tahu-tahu saya ada di rumah sakit orang Israel.’

Fatima sedang mengerjakan tugas-tugas rutinnya ketika bom mortir meledak di dekat rumahnya, menyebabkan dirinya dan putrinya, ‘Zahra’, luka-luka.

Para dokter menjelaskan luka yang menimpa Fatima sebagai ‘trauma parah akibat ledakan, dengan hilangnya jaringan dan tulang pergelangan kakinya’. Sementara itu, ‘Zahra’ menderita patah tulang di kedua kakinya.

Seorang anak perempuan Suriah berusia 15 tahun yang dirawat di ranjang sebelahnya, juga dari Daraa, kurang beruntung karena harus kehilangan kedua kakinya akibat luka terkena ledakan.

Ketegangan di Israel meningkat, di mana negara Yahudi itu takut efek dari kemungkinan serangan AS ke Suriah dalam menanggapi adanya dugaan penggunaan senjata kimia bisa meluas dan melintasi perbatasan utara.

Warga Israel bergegas mengganti masker gas yang lama atau yang sudah hilang meskipun para ahli menilai rendahnya kemungkinan serangan rezim Suriah atau agen mereka Hizbullah di Lebanon terhadap Israel.

Kedua negara yang bertetangga itu sudah saling bermusuhan sejak Israel menduduki 1.200 km persegi dari Dataran Tinggi Golan yang strategis selama Perang Enam Hari pada 1967, yang kemudian dicaplok Israel meskipun tidak pernah diakui komunitas internasional.

Tetapi, di samping ketegangan yang meningkat, Dr Calin Shapira, wakil kepala Ziv, mengungkapkan tidak ada korban luka dari Suriah yang dibawa ke rumah sakit itu yang ditolak.

‘Tidak masalah dari mana mereka berasal,’ katanya. ‘Kami menerima dan merawat mereka dengan penuh kasih sayang. Bagaimanapun juga, memberi pertolongan medis adalah hal yang penting—ini sudah menjadi prinsip profesi medis.’

Dia menambahkan, ‘sebagian besar korban luka yang datang dari Suriah hanya warga sipil tak bersalah, dan belum pernah terlibat dalam pertempuran. Mereka adalah para perempuan dan anak-anak.’

‘Warga Suriah itu dibawa ke sini oleh para tentara,’ ujar Shapira.

‘Kami tidak tahu asal mereka, atau siapa mereka. Kami hanya tahu mereka bukan dari pasukan (Presiden Suriah Bashar-al) Assad.’

Pasukan Israel mengatakan mereka telah membawa puluhan warga Suriah yang luka-luka dari perbatasan Quneitra menyeberangi Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel menuju Ziv, yang jaraknya sekitar 40 kilometer.

‘Setelah korban luka dapat meninggalkan rumah sakit dengan aman, mereka akan diserahkan kembali kepada pasukan Israel, yang akan membawa mereka ke Suriah, tapi saya tidak tahu di mana,’ ungkap Shapira.

Di unit penanganan trauma di sampingnya, seorang pemuda Suriah dirawat akibat sejumlah luka yang kelihatannya dideritanya selama pertempuran.

Tampak tonjolan perban menutupi perutnya yang menganga, hasil dari ‘luka pecahan peluru yang bersarang di perut’. Demikian menurut Dr Yitzhak Kaufmann dari unit penanganan trauma.

Pria Suriah itu kelihatannya sangat ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu bersuara.

‘Dia juga telah menjalani trakeostomi,’ untuk mencegah penyebaran infeksi bronkial.

Salah satu jarinya telah diamputasi—dampak lain dari pecahan peluru.

‘Jari telunjuknya, barangkali,’ ujar seorang doker, mengindikasikan pria itu mungkin pejuang pemberontak Suriah.

Sementara itu, mengacu kepada sejumlah dugaan bahwa rezim Suriah menyerang pinggiran kota Damaskus dengan senjata kimia, Fatima mengatakan apa pun senjata yang digunakan, efek dari konflik itu sama saja.

‘Semua orang takut pada apa pun jenis serangan dan bom (yang dilancarkan rezim), yang kini sudah berlangsung sangat lama,’ ungkapnya, menunduk menatap pergelangan kakinya yang hancur akibat pecahan peluru meriam.

‘Kami hanya ingin situasi ini berakhir saat kami pulang.’

Leave a Reply
<Modest Style