Modest Style

20.000 Orang di Kamp Yarmuk, Syria Mengalami Kelaparan

,
Pekerja Bulan Sabit Merah Rusia mengevakuasi anak-anak dari kamp pengungsian orang Palestina  Yarmuk yang telah dikepung, di selatan ibukota Syria, Damaskus, pada tanggal 19 Januari 2014. Seorang pejabat Palestina memberitahu AFP bahwa berlusin-lusin penduduk yang sakit kritis dievakuasi dari kamp Yarmuk, yang sudah berada dibawah kendali tentara oposisi Syria selama berbulan-bulan. Foto AFP/ STR
Pekerja Bulan Sabit Merah Rusia mengevakuasi anak-anak dari kamp pengungsian orang Palestina Yarmuk yang telah dikepung, di selatan ibukota Syria, Damaskus, pada tanggal 19 Januari 2014. Seorang pejabat Palestina memberitahu AFP bahwa berlusin-lusin penduduk yang sakit kritis dievakuasi dari kamp Yarmuk, yang sudah berada dibawah kendali tentara oposisi Syria selama berbulan-bulan. Foto AFP/ STR

Oleh Serene Assir

BEIRUT, 29 Januari 2014 (AFP) – Dikepung sejak bulan Juni, sedikitnya 20,000 orang di kamp Palestina di Yarmuk, Damaskus sangat kekurangan makanan hingga makanan yang mereka makan adalah binatang yang tersasar, dan beberapa perempuan bahkan terpaksa terlibat dalam prostitusi, menurut penduduk yang dihubungi melalui internet.

“Banyak yang membunuh dan memakan kucing dan anjing, dan bahkan keledai”, kata penghuni Yarmuk, Ali, yang dulunya adalah seorang mahasiswa ketika kerusuhan Syria terjadi di tahun 2011.

“Salah satu orang yang membunuh anjing tidak menemukan daging untuk dimakan, karena sampai anjing pun kelaparan,” ia memberitahu AFP melalui Skype.

“Apa yang sulit dibayangkan beberapa bulan lalu merupakan hal yang biasa sekarang.”

Sebelum sebuah kamp pengungsian, Yarmuk berkembang selama beberapa generasi menjadi sebuah distrik komersial dan pemukiman yang sibuk, di mana baik orang Syria dan Palestina hidup berdampingan.

Pada tahun 2011, Yarmuk adalah rumah bagi 150,000 orang Palestina yang terdaftar di Syria setelah gelombang pengambilalihan memaksa leluhur mereka untuk mencari tempat lain setelah diduduki oleh Israel.

Ketika perang menyebar ke daerah Damaskus di musim panas tahun 2012, ribuan orang dari bagian lain ibukota mengungsi ke Yarmuk, sehingga jumlah populasi di sana membengkak.

Namun Yarmuk akan segera menjadi zona perang juga, sebagaimana orang-orang Syria yang melawan rezim presiden Bashar al-Assad pindah ke kamp tersebut.

Beberapa orang Palestina bergabung dengan pemberontak, beberapa mendukung grup pro-rezim, terutama Popular Front for the Liberation of Palestine-General Command (PFLP-GC).

Di bulan Juni, tentara membebankan blokade total di Yarmuk, yang mencakup 2 kilometer persegi dari area tersebut (kurang dari setengah mil)

Sebagian besar penduduk telah mengungsi semenjak saat itu, tapi, menurut PBB, ada 18,000 warga sipil yang masih bertahan.

Tujuh bulan kemudian, stok makanan dan obat-obatan telah habis, dengan harga-harga yang meroket hingga 100 dolar untuk 1 kilogram beras, kata penduduk.

“Situasinya sangat memprihatinkan hingga perempuan-perempuan menjual tubuh mereka kepada laki-laki yang mengumpulkan makanan sebelum pengepungan terjadi, hanya untuk secangkir beras atau bulgur,” kata Ali.

“Bayangkan perasaan seorang Ayah yang tidak bisa memberi makan anaknya, selama mereka meratap kelaparan,” ia menambahkan.

Tujuh puluh delapan orang, termasuk 25 perempuan dan 3 anak-anak, telah tewas akibat kelangkaan ini, menurut Syrian Observatory for Human Rights — Badan Pengawas HAM Syria.

Karena hal ini, 61 orang telah tewas dalam 3 bulan terakhir, menurut Badan Pengawas, yang bergantung pada jaringan aktivis dan dokter dalam negeri untuk laporannya.

Bubuk susu dan vaksin untuk bayi

Ditugaskan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi Palestina, Organisasi UNRWA (Relief and Works Agency) PBB berjuang untuk mengamankan akses ke kamp tersebut.

Hanya 2 konvoi yang berhasil ke Yarmuk di beberapa bulan terakhir, membawa sedikitnya 138 parsel bantuan makanan.

Menurut juru bicara UNRWA Chris Gunnes, “bantuan yang boleh masuk….sejauh ini sangat tidak layak untuk memenuhi kebutuhan 18.000 warga sipil.”

Kebutuhan tersebut termasuk “bubuk susu bayi, vaksin polio untuk bayi, dan kebutuhan dasar makanan,” kata Gunnes.

Pada tanggal 18 Januari, pemerintah mengatakan akan memfasilitasi aksesnya.

“Namun, para agen sangat kecewa bahwa… janji yang diberikan oleh penguasa tidak disertai dengan tindakan langsung untuk memfasilitasi jalur masuk yang umum dan cepat ke Yarmuk mengingat banyaknya bantuan yang diperlukan untuk menghidupi ribuan warga sipil,” Gunnes memberitahu AFP.

Ketika perwakilan rezim dan oposisi bertemu di Jenewa untuk membicarakan perdamaian dan bernegosiasi mengenai akses bantuan untuk Homs di Syria tengah, tampaknya nasib Yarmuk tidak dibahas.

Juru bicara PFLP-GC Anwar Raja menyalahkan para pemberontak, yang ia deskripsikan sebagai “teroris”, untuk keadaan gawat di kamp.

“Ada kesepakatan untuk orang Palestina yang bersenjata di dalam kamp agar memaksa orang non-Palestina yang bersenjata untuk pergi,” kata Raja, merujuk pada pemberontak.

“Kami harap orang-orang akan mendorong grup orang Palestina bersenjata yang sudah bersumpah untuk mendesak grup lain yang bersenjata, termasuk Al-Nusra (Fron, afiliasi Al-Qaeda)… supaya menciptakan atmosfir yang lebih baik untuk memastikan bantuan masuk.

Untuk bagiannya, Wissam Sbaaneh, anggota Palestinian Jafra Foundation, menyalahkan PFLP-GC dan tentara.

“Orang-orang meminta bubuk susu untuk anak-anak dan vaksin. Untuk apa para pemberontak menginginkan bubuk susu?” kata Sbaaneh, mengejek PFLP-GC yang mengklaim bahwa warga sipil dijadikan sandera oleh tentara oposisi.

Sbaaneh juga mengatakan grup bersenjata lain, yang menghalangi para pejihad, telah menuruti kesepakatan dengan rezim yang berkuasa, dan bahwa “warga sipil siap menekan Al-Nusra jika rezim membuktikan bahwa ia serius”.

Memang pada hari Senin, Badan Pengawas melaporkan adanya demonstrasi di kamp yang melawan Fron Al-Nusra.

Direktur Badan Pengawas Rami Abdel Rahman bersikeras bahwa pengepungan harus dibubarkan secara menyeluruh.

“Warga sipil dipaksa kelaparan agar mereka melawan para pemberontak. Adalah kejahatan perang untuk mengepung area di mana warga sipil berada,” Abdel Rahman memberitahu AFP.

Leave a Reply
<Modest Style