Modest Style

Libur Akhir Pekan: Medan, Indonesia

,

Shea Rasol mengemas tas dan terbang ke Medan untuk libur akhir pekan. Niat hati berlibur santai sambil melakukan perawatan tubuh berubah menjadi pengalaman tak terlupakan merasakan kehidupan Medan.

[Not a valid template]

Saya selalu bermimpi untuk berkeliling dunia, mempelajari bagaimana warga setempat hidup dan merasakan budaya, makanan, dan pemandangannya.

Saya membuat resolusi untuk lebih banyak berwisata tahun ini. Lagipula, saya tidak memiliki tanggung jawab lain selain pekerjaan saya. Saya memutuskan sekaranglah saatnya saya mulai melihat tempat-tempat baru dan belajar hal baru saat saya mampu dan memiliki kondisi keuangan yang memadai.

Dan karena saya telah merasa agak gelisah terus hidup di dalam “kotak”, berwisata akan membantu saya keluar dari hidup yang monoton. Dengan pemikiran seperti ini, bersama beberapa teman dekat, saya pun memutuskan untuk pergi.

Pemberhentian pertama kami tahun ini adalah Medan, Indonesia. Medan merupakan tujuan yang sempurna bagi kami: dekat dari tanah air Malaysia, namun menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. Awalnya kami berencana menjadikan perjalanan ini saat untuk memanjakan diri di berbagai tempat spa dan menikmati pijat serta lulur Indonesia.

Namun dengan sangat menggembirakan, rencana perjalanan kami harus berubah karena ada hal yang begitu menarik perhatian kami di sana: Makanan! Saya merasa harus mengakui bahwa berat badan saya naik sebanyak 4 kg dalam perjalanan empat hari saya di Medan. Ini adalah bukti betapa enaknya makanan di sana.

Kami meluangkan hanya satu hari di spa dan mendedikasikan tiga hari sisanya untuk wisata kuliner. Beruntungnya, kami memiliki seorang teman di Medan yang mengajak kami berkeliling.

Kami mencoba Nasi Ayam Kremez yang terkenal, Nasi Ayam Penyet yang sangat pedas namun penuh cita rasa, dim sum, dan banyak makanan kaki lima.

Kami tidak memasukkan belanja ke dalam daftar kegiatan, namun akhirnya sempat mampir ke Pajak Ikan di mana kami melihat banyak kemeja, bahan batik dan songket, mukena, dan berbagai barang produksi lokal.

Saya mendapatkan pengalaman tak terlupakan di Medan, tidak seperti di Jakarta dan Bandung. Di Medan, pemadaman listrik dan air sehari-hari merupakan sesuatu yang wajar. Kami memilih menginap di rumah teman dan bukan di hotel karena kami ingin melihat kehidupan orang Medan secara langsung. Hasilnya, kami ikut merasakan pemadaman tersebut.

Meski begitu, saya pasti akan berkunjung kembali ke Medan. Kami tidak sempat memasukkan Danau Toba ke daftar kunjungan kali ini karena letaknya yang 7 jam perjalanan dari tempat kami menginap. Selain itu, kualitas udara di Berastagi sedang tidak baik dengan adanya debu dan kabut dari letusan Gunug Api Sinabung. Kedua tempat ini akan menjadi tujuan kunjungan saya berikutnya.

Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya!

Leave a Reply
<Modest Style