Modest Style

Mari Lari: Jangan menyerah hingga garis finish

,

Penulis Ninit Yunita berbagi kesan dan pengalamannya menulis skenario film “Mari Lari” yang menggugah semangat. Selengkapnya oleh Najwa Abdullah.

Pernah mendengar tentang kompetisi lari fenomenal Bromo Marathon? Film Indonesia terbaru yang satu ini berlatar belakang kompetisi lari tersebut dan menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan film Indonesia kebanyakan. Jangan terperdaya dengan temanya yang berbau olahraga; film ini bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang gemar olahraga saja karena ia sarat akan pesan dan makna tentang kehidupan yang menyentuh.

Penulis skenario film ini, novelis dan blogger Ninit Yunita, berbagi dengan Aquila Style tentang film yang dibintangi oleh Olivia Jensen, Dimas Aditya, Doni Damara dan Ibnu Jamil ini.

Ninit menjelaskan bahwa salah satu hal yang mendorongnya untuk menulis skenario film Mari Lari adalah pengalaman pribadinya sebagai orang yang awalnya tidak suka berolahraga.

“Lari adalah olahraga yang rutin saya lakukan selama lebih dari 2 tahun terakhir ini. Sebelum lari, saya sama sekali tidak suka berolahraga – apalagi lari. Saya tidak tertarik karena memori masa sekolah dulu bahwa lari itu identik dengan hukuman.

“Ternyata, setelah mencoba lari, efeknya luar biasa. Saya merasa setelah lari, saya menjadi saya dengan versi yang lebih baik. Saya menjadi lebih sehat, bahagia dan positif,” jelas Ninit.

Karena merasakan banyaknya manfaat lari, Ninit menjadi ingin menulis novel bertema olahraga yang belum pernah ada sebelumnya. Kebetulan Ninit bertemu dengan Yasha Chatab, co-founder dari IndoRunners yang mengajaknya untuk membuat film tentang lari bersama dengan Delon Tio.

“Dari situ saya mulai mengembangkan cerita sebuah film ber-genre drama olahraga. Mengingat saya sudah berkeluarga, saya menyukai film bertema keluarga. Akhirnya terpikirkan untuk menceritakan tentang hubungan bapak dan anak yang kurang baik, di mana dengan lari marathon akhirnya membuat hubungan mereka membaik.”

Dalam proses penulisan, Ninit banyak belajar dari Adhitya Mulya, suaminya yang sudah lebih dulu menulis skrip film (JomBlo & TestPack) dan berhasil masuk nominasi piala Citra.

Poster film Mari Lari

Film yang mengambil lokasi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini bercerita tentang Rio Kusumo (diperankan Dimas Aditya), seorang pemuda pesimis dan mudah menyerah yang tidak pernah menyelesaikan apapun dalam hidupnya dan kemudian diusir dari rumah oleh bapaknya (Donny Damara). Setelah kematian ibunya yang adalah seorang pelari, untuk pertama kali dalam hidupnya Rio mencoba membuktikan diri kepada sang ayah (Doni Damara) bahwa ia patut dibanggakan karena mampu menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.

Di akhir film, pemuda berusia 28 tahun ini harus menyelesaikan tantangan terberat dalam hidupnya: berlari 42km di area pegunungan Bromo yang curam.

Proyek film ini sepenuhnya dicurahi cinta dan dilakukan oleh para penggemar olahraga lari.

“Lari adalah yang menghubungkan kami: Delon Tio (sutradara), Yasha Chatab (produser), dan saya (penulis). Kami bertiga menyukai lari sehingga kami dipertemukan karena cita-cita yang sama,” jelas Ninit.

Sebelumnya, Delon yang juga seorang pelari sudah berpengalaman menjadi produser film. Film Mari Lari adalah debut pertamanya dalam penyutradaraan film. Demikian pula dengan Ninit: Mari Lari merupakan pengalaman pertamanya dalam menulis skrip film.

“Kami percaya dan optimis dalam melakukan proyek film ini karena didasari juga oleh kecintaan kami terhadap lari. Lari sudah banyak memberikan efek positif bagi kami, sehingga kami juga ingin menyebarkan “virus” ini pada orang lain dengan jumlah yang lebih banyak lagi melalui media visual, yaitu film,” tambah Ninit.

Aktor dan aktris yang terlibat di film Mari Lari pun adalah mereka yang menyukai olahraga sehingga mereka semua bekerja secara maksimal. Ninit Yunita yang juga merupakan salah satu pendiri komunitas The Urban Mama ini mengaku puas dengan performa para aktor dan aktris dalam film ini, terutama Dimas Aditya dan Doni Damara.

Chemistry mereka berdua sungguh luar biasa sebagai anak dan bapak. Apa yang saya bayangkan ketika menulis naskah film, terhubung dengan baik melalui akting mereka berdua yang luar biasa.”

Ninit juga bercerita bahwa salah satu adegan dalam film ini yang paling ia sukai karena memiliki kekuatan visual yang membuatnya menangis adalah adegan ketika Rio mendapatkan bib (nomor lari) almarhumah ibunya untuk Bromo Marathon. Rio sebenarnya bisa saja mendaftar sendiri untuk mengikuti Bromo Marathon tetapi dia sangat ingin memakai bib sang ibu yang masih disimpan ayahnya.

Apakah Rio berhasil membuktikan pada ayahnya bahwa ia adalah seorang anak yang pantas dibanggakan? Tentu Anda harus menonton sendiri filmnya yang saat ini masih tayang di beberapa bioskop di Indonesia.

Di akhir perbincangan kami, Ninit mengatakan bahwa film ini patut disaksikan generasi muda Indonesia untuk menggugah semangat mereka.

“Lewat perjuangan Rio, pesan film ini sangat universal: Just keep running. Intinya dalam hal apapun, selesaikan apa yang kita mulai. Jangan berhenti di tengah jalan. Semangat dan usahakan yang terbaik agar bisa sampai ke garis finish.

Leave a Reply
<Modest Style