Apakah Anda “terasing dari mesjid”?

,

Jika Anda tidak lagi pergi ke mesjid setempat, atau merasa suasana hati justru tidak enak saat mengunjungi mesjid, maka Anda harus menonton film ini. Diulas oleh Eren Cervantes-Altamirano.

1401-WP-Unmosqued-by-Eren-sm

Pernahkah Anda merasa tidak diterima di mesjid? Pernahkah seseorang menyuruh Anda untuk tidak sembahyang di tempat tertentu karena Anda perempuan? Pernahkah seseorang berkata bahwa pengetahuan Anda kurang dibandingkan Muslim lainnya? Apakah Anda shalat berjamaah di mesjid yang jemaatnya berasal dari satu kelompok dan tidak mau berbicara kepada Anda karena Anda orang “asing”?

Jika jawaban Anda “ya”untuk pertanyaan mana pun di atas, Saya yakin Anda akan menyukai UnMosqued, sebuah film dokumenter mengenai “mesjid yang dibangun imigran” di AS. Saya berkesempatan untuk menontonnya di Ottawa, Kanada, karena Pusat Kajian Islam di Carleton University bekerja sama dengan Muslim Link (koran Muslim lokal) dan Ummahub menyelenggarakan pemutaran film tersebut di universitas. Film ini menarik beragam penonton, termasuk Muslim taat, mantan Muslim, perempuan kulit berwarna, Anggota DKM aktif dan Muslim yang “terasing dari mesjid”– mereka yang tidak lagi pergi ke mesjid atau merasa tidak nyaman saat pergi ke mesjid.

Mengikuti gaya Me and the Mosque oleh Zarwa Narwaz mengenai situasi di Kanada, Unmosqued menelusuri hubungan (atau ketiadaan hubungan) antara Muslim yang berbeda dengan mesjid di seluruh AS. Meskipun film ini berfokus kepada konteks Amerika, menurut saya banyak permasalahan yang dibahas umum terjadi di banyak negara lainnya. Film ini menunjukkan kenapa Muslim di AS tidak akrab dengan mesjid mereka, mendukung perlunya reformasi, inklusi, dan perubahan.

Dokumenter tersebut menyoroti sekelompok Muslim muda yang, karena prihatin mengenai kurangnya reformasi dan perubahan di mesjid mereka, memutuskan untuk mengadakan pemilihan dewan di mesjid mereka. Seringkali didominasi oleh pria paruh baya yang berasal dari satu atau dua kelompok etnis, dewan mesjid membuat keputusan mengenai keuangan, acara dan ibadah, fasilitas dan staf. Kurangnya perempuan, pemuda, mualaf dan kelompok etnis yang beragam dirasa sebagai sebuah masalah karena dewan gagal untuk memenuhi kebutuhan jemaat mereka yang majemuk.

UnMosqued mengajukan pertanyaan yang banyak dari kita telah telusuri untuk beberapa lama: peran perempuan di masyarakat, fungsi mesjid bagi identitas Muslim, debat budaya versus agama, akomodasi untuk mualaf dan perasaan gelisah yang dirasa banyak Muslim saat mengunjungi mesjid. Di atas semua itu, dokumenter tersebut bertanya, apakah mesjid penting? Dan jika ya, bagaimana kita bisa membuatnya lebih nyaman?

Saya senang bahwa film ini memiliki narasumber yang beragam, meliputi imam, pelajar, aktivis, praktisi muda, pendiri mesjid dan narasumber yang berasal dari kelompok etnis yang berbeda, meliputi etnis Afrika Amerika, Asia Tenggara, Timur Tengah dan Barat. Sama halnya, para narasumber menekankan tantangan yang dihadapi perempuan di mesjid dalam kaitannya dengan ruang shalat, kesempatan untuk memperoleh kepemimpinan dan kuasa dalam pengambilan keputusan. Bagian pertama film, yang menyoroti ruang bagi perempuan di mesjid, berisi sebagian karya Hind Makki, pembuat Side Entrance, sebuah situs yang didedikasikan untuk menunjukkan tempat perempuan shalat di seluruh dunia – termasuk yang bagus, yang jelek dan yang buruk.

Film ini memunculkan emosi yang beragam bagi saya, karena sebagai perempuan kulit berwarna dan mualaf, saya telah menghadapi berbagai tantangan di ruang mesjid. Meskipun demikian, saya masih merasa bahwa masih banyak masalah yang harus dibahas. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana kita bertanggung jawab untuk situasi mesjid di Amerika Utara?

Meskipun banyak kritik ditujukan bagi pengurus mesjid, pelajar dan imam, masalah perilaku Muslim tidak banyak dibahas. Rasisme, seksisme, diskriminasi dan eksklusi tidak hanya lazim terjadi di mesjid. Akan tetapi, hal tersebut adalah perilaku yang diperlihatkan oleh banyak dari kira dan didukung oleh masyarakat kita – di mesjid, sekolah, atau kegiatan sosial lainnya.

Namun, meskipun kita harus terus berjuang, film ini adalah awal dari percakapan dengan menanyakan pertanyaan pertama: kenapa Anda terasing dari mesjid? Para narasumber memberi kita renungan lebih jauh: apakah ada hal yang dapat Anda lakukan untuk mengubah mesjid? Akankah Anda melakukannya?

Film ini diperuntukkan bagi semua orang yang merasa teralienasi dari mesjid dalam pada suatu titik dalam hidupnya. Saya juga menganjurkan mereka yang belum mengalami hal tersebut untuk menonton, karena film ini merupakan pembelajaran yang baik dan untuk memahami pengalaman orang lain.

Ajukan permohonan pemutaran UnMosqued melalui situsnya.

Leave a Reply
Aquila Klasik